Rasionalitas Pemilihan Obat Dalam Terapi Asma Akut

Monday, February 25, 2013

Asthma_drug_therapy_chart

1. Terbutalin

Terbutalin termasuk dalam golongan obat-obat β2-agonis yang bersifat simpatomimetik. Golongan obat ini bekerja secara selektif pada reseptor β2 dan memiliki lama aksi yang panjang.  Reseptor β2 terdapat pada berbagai organ tubuh seperti pada arteriol, otot polos bronkus, lambung dan usus, pankreas, uterus dan hepar. Pada paru-paru, bila dirangsang, reseptor β2 akan menyebabkan relaksasi dari otot polos bronkus.

Pada asma bronkiale, akibat proses inflamasi, terjadi hipereaktivitas bronkus dengan akibat terjadi spasme otot polos bronkus, yang bersama dengan faktor-faktor lainnya menyebabkan obstruksi saluran napas.

2. Ipratropium Bromida

Ipratropium Bromida adalah obat yang masuk dalam golongan antikolinergik/antimuskarinik. Antikolinergik ini bekerja di alat yang dipersarafi serabut pasca ganglion kolinergik ( serabut parasimpatis). Di organ paru, perangsangan kolinergik akan menyebabkan kontraksi otot bronkus dan trakea serta peningkatan sekresi oleh kelenjar bronkus.

Ipratropium bromida, sebagai suatu derivat metil atropin, merupakan antikolinergik yang memperlihatkan efek bronkodilatasi secara khusus. Di klinik, ipratropium bromida tersedia dalam bentuk metered-dose inhaler(MDI) yang memberikan 0,02 mg/semprotan untuk pengobatan tambahan asma bronkial.8 Pada asma eksaserbasi akut, pemberian obat ini akan meningkatkan efek bronkodilator obat golongan beta 2 agonis.

3. Dexametason

Dexametason adalah salah satu sedian kortikosteroid dan termasuk pada golongan yang masa kerjanya lama sesuai paruh biologiknya yakni lebih dari 36 jam. Pada manusia biosintesis kortikosteroid berlangsung dikorteks adrenal dimana kecepatannya disesuaikan dengan kecepatan sekresinya dibawah pengaruh ACTH.

Secara farmakodinamik, kortikosteroid dalam hal ini dexametason memiliki potensi anti inflamasi dengan mencegah atau menekan timbulnya gejala inflamasi. Dalam penggunaan klinik, dexametason sebagai anti inflamasi masih merupakan terapi paliatif, dalam hal ini penyebab penyakit tetap ada hanya gejalanya yang dihambat. Sebenarnya hal inilah yang menyebabkan obat ini banyak digunakan untuk berbagai penyakit, bahkan sering disebut live saving drug, tetapi juga mungkin menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan.

Efektivitas Obat

1, Terbutalin

Melalui jalur inhalasi, terbutalin menimbulkan efek bronkodilatasi yang ekuivalen dengan efek dari isoproterenol, suatu beta agonis non selektif. Bronkodilatasi terjadi maksimal dalam 30 menit dan bertahan selama 3-4 jam.

.2. Ipratropium Bromida

Dari kepustakaan, disebutkan bahwa dibandingkan dengan atropin, ipratropium bromida merupakan antimuskarinik yang memperlihatkan efek bronkodilatasi yang berarti. Pada asma eksaserbasi akut golongan ini efektif dalam menambah efek bronkodilatasi dari obat beta-2 agonis.

3. Dexametason

Penelitian-penelitian di klinik secara konsisten menunjukkan bahwa kortikosteroid efektif dalam memperbaiki semua indeks pengontrol asma: beratnya gejala, tes-tes rektivitas bronkial, frekuensi eksaserbasi, dan kualitas hidup.

Keamanan Terapi

1. Terbutalin

Karena sifatnya yang selektif, pada dosis kecil kerja obat pada reseptor beta-2 jauh lebih kuat daripada kerjanya pada reseptor beta-1. Obat-obatan golongan beta-2 agonis hanya menimbulkan sedikit perubahan tekanan darah.

2. Ipratropium Bromida

Pemberian secara inhalasi ipratropium bromida tidak mempengaruhi kekentalan, produksi, maupun proses pembersihan mukus. Obat ini juga praktis tidak diserap sehingga jarang menimbulkan efek samping sistemik.

3. Deksametason

Dari kepustakaan dikatakan bahwa suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya dan pada keadaan yang mengancam jiwa pasien, kortikosteroid dosis besar dapat diberikan untuk waktu singkat selama tidak ada kontraindikasi spesifik. Sementara pada pemberian kortikosteroid selama beberapa hari atau beberapa minggu, perlu diperhatikan keadaan-keadaan seperti : diabetes melitus, tukak peptik, infeksi berat, hipertensi, atau gangguan vaskular lainnya.

Terapi Ekonomis

1. Terbutalin

Terbutalin merupakan obat beta2 agonis yang poten dengan efek samping yang minimal, pemberiannya mudah, serta tersedia dalam bentuk canister atau turbuhaler yang praktis untuk di bawa kemana saja. Secara ekonomis, semua keunggulan ini dapat diperoleh dengan harga yang cukup terjangkau.

2. Ipratropium Bromida

Sebagai pelengkap obat golongan beta 2 agonis dalam penanganan asma eksaserbasi akut, ipratropium bromida tersedia dalam bentuk inhaler sehingga mudah untuk digunakan dengan harga yang cukup ekonomis.

3. Deksametason

Deksametason adalah obat yang sangat ekonomis karena harganya yang sangat terjangkau. Hal inilah yang membuat seringkali terjadi penyalahgunaan jenis obat ini olehmasyarakat awam karena obat ini dapat dijumpai dengan mudah di toko-toko obat.

Asma bronkial adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas yang ditandai dengan obstruksi jalan napas yang dapat hilang dengan atau tanpa pengobatan akibat hiperreaktivitas bronkus. Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot, bronkus, sumbatan mukus, edema, dan inflamasi dinding bronkus.

Pengobatan serangan asma eksaserbasi akut memerlukan beberapa obat-obatan dengan bermacam-macam mekanisme kerja sehubungan dengan patofisiologi penyakit. Pada kasus ini digunakan obat golongan beta-2 agonis (terbutalin) sebagai bronkodilator, antikolinergik (ipratropium bromida) untuk menambah efek bronkodilator beta 2 agonis pada serangan akut asma dan kortikosteroid (deksametason) sebagai anti inflamasi dan mengurangi obstruksi saluran napas secara tidak langsung.

Secara ekonomis, obat-obatan yang diberikan mudah untuk digunakan dan dibawa kemana saja karena tersedia dalam bentuk canister, turbuhaler dan inhaler dengan harga yang terjangkau.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget