Market Update ( IHSG, BI rate, Saham, Investasi )

Sunday, March 4, 2012

IMG-20110816-00140

Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Nilai mata uang Rupiah selama beberapa bulan terakhir ini lebih disebabkan karena faktor teknis dan sentimen pasar, yakni memburuknya kondisi perekonomian di Eropa yang berkepanjangan. Hal ini menyebabkan para investor asing melakukan profit taking atas keuntungan portfolio di investasi saham Indonesia. Tindakan ini merupakan aktivitas rebalancing ( aktivitas investor dalam menata kembali portfolio investasi mereka dengan mengurangi bobot investasi yang sudah memberikan profit untuk dialihkan ke invetasi lain ).

Bank Indonesia pada tanggal 9 November 2011 memutuskan untuk menurunkan BI rate menjadi 6% dengan keyakinan bahwa inflasi pada akhir tahun ini maupun tahun depan akan berada dibawah 5%. Langkah ini ditempuh sebagai antisipasi untuk memitigasi dampak penurunan kinerja ekonomi dan keuangan global terhadap perekonomian Indonesia. Namun yang harus digaris bawahi kondisi fundamental pasar dan ekonomi Indonesia saat ini masih stabil, antara lain ditopang oleh :

  1. Pertumbuhan ekonomi negara kita yang mencapai 6,54% ( per 30 September 2011 ). Hal ini ditunjang konsumsi domestik yang tinggi.
  2. Pada tahun 2008 (global turmoil economy) Indonesia merupakan satu dari sedikit negara yang tetap bisa membukukan pertumbuhan ekonomi yang positif.
  3. Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang meningkat 4 kali lipat hingga hampir mencapai 100 juta orang, kondisi ini mendukung peningkatan konsumsi domestik, artinya hanya dengan pengeluaran rutin kita semua saja sudah cukup untuk menunjang pertumbuhan ekonomi negara kita.
  4. Pemerintah juga telah lebih siap untuk mengantisipasi gejolak di pasar modal saat ini dengan cadangan devisa yang dimiliki sebesar USD 111 miliar per November ( jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2008 yang nilainya sekitar USD 51,6 miiliar ) dan diharapkan membantu Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
  5. Bank Indonesia juga berusaha menstabilkan harga perdagangan Surat Utang Negara dengan melakukan buy-back ( pembelian kembali Surat Utang Negara ) yang ada di pasar modal.
  6. Pertumbuhan ekspor tetap kuat ( Net Export per Oktober 2011 tercatat USD 1,4 miliar ) dan mayoritas negara tujuan ekspor kita adalah negara-negara Asia seperti China dan Jepang, bukan kawasan Eropa atau Amerika.
  7. Selama tahun 2011, IHSG telah membukukan hasil positif, yaitu ditutup pada 3821,99 ( naik 3,20% ) dan Rupiah ditutup pada 9068 di bulan Desember 2011.

Penurunan valuasi IHSG tidak bisa dikaitkan dengan kondisi perekonomian negara kita secara keseluruhan, artinya penurunan saham meupakan kesempatan untuk menambah investasi dalam saham, mengingat harga saham sudah mencapai harga yang menarik untuk dibeli. Selain itu, Teori Dollar Cost Averaging dimana seseorang melakukan investasi secara regular dan berkesinambungan akan mendapatkan peluang untuk meraih profit dalam jangka waktu panjang.

Sumber : Bloomberg

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget