Tes Fungsi Pendengaran ( Hearing Function Test )

Wednesday, September 16, 2009

Tes oendengaran ( hearing function test )

Terdapat berbagai macam uji pendengaran untuk mengetahui fungsi pendengaran seseorang dimulai dari tes yang sederhana sampai tes yang menggunakan peralatan yang canggih seperti audiometer.

Tes audiometer tergolong rumit dan sulit dilakukan sebab diperlukan ruangan yang kedap suara serta orang yang berkompetensi untuk menjalankan tes tersebut, sehingga yang banyak dilakukan untuk uji pendengaran adalah : tes suara ( Bisik, Konversasi ) dan tes garpu tala ( Scwabach, Rinne, Weber ).1

Tujuan dari tes pendengaran adalah :

  1. Menentukan apakah pendengaran seseorang normal atau tidak.
  2. Menentukan derajat kekurangan pendengaran.
  3. Menentukan lokalisasi penyebab gangguan pendengaran.2

Tes Suara

Tes Bisik : Normalnya tes bisik dapat didengar 10 – 15 meter. Tetapi biasa dipakai patokan 6 meter. Syarat melakukan tes Bisik :

  • Pemeriksa berdiri di belakang pasien supaya pasien tidak dapat membaca gerakan bibir pemeriksa.
  • Perintahkan pasien untuk meletakkan satu jari pada tragus telinga yang tidak diperiksa untuk mencegah agar pasien tidap dapat mendengar suara dari telinga itu.
  • Bisikkan kata pada telinga pasien yang akan diperiksa. Kata harus dimengerti oleh pasien, kata dibagi atas : yang mengandung huruf lunak ( m, n, l, d, h, g ) dan yang mengandung huruf desis ( s, c, f, j, v, z ).
  • Suruh pasien untuk mengulang kata – kata tersebut.
  • Sebut 10 kata ( normal 80 % ), yaitu 8 dari 10 kata atau 4 dari 5 kata.
  • Apabila penderita tidak / kurang mendengar huruf desis → tuli persepsi.
  • Apabila penderita tidak / kurang mendengar huruf lunak → tuli konduksi1

Gambar 3 : Tes Suara Bisik

clip_image001clip_image002clip_image003

Tes Konversasi : Caranya sama dengan tes bisik, tetapi tes ini menggunakan percakan biasa.

Tes Garpu Tala.

Tes Schwabach : Tes ini digunakan untuk membandingkan penghantaran bunyi melalui tulang penderita dan pemeriksa. Syarat melakukan tes Schwabach :

  • Gunakan garpu tala 256 atau 512 Hz.
  • Getarkan garpu tala.
  • Letakkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa.
  • Apabila bunyi sudah tidak didengar lagi, segera garpu tala diletakkan pada planum mastoid penderita.
  • Lakukan hal ini sekali lagi tetapi sebaliknya lebih dahulu ke telinga penderita lalu ke telinga pemeriksa. Lakukan cara ini untuk telinga kiri dan kanan.
  • Normal jika pemeriksa sudah tak dapat mendengar suara dari garpu tala, maka penderita juga tidak dapat mendengar suara dari garpu tala tersebut.
  • Tuli Konduksi apabila pemeriksa sudah tidak dapat mendengar suara dari garpu tala tetapi penderita masih dapat mendengarnya ( Schwabach memanjang ).
  • Tuli persepsi apabila pemeriksa masih dapat mendengar suara dari garpu tala tetapi penderita sudah tidak dapat mendengar lagi.3

Tes Rinne : Tes ini digunakan untuk membandingkan penghantaran bunyi melalui tulang dan melalui udara pada penderita. Syarat melakukan tes Rinne :

  • Garpu tala digetarkan.
  • Letakkan tegak lurus pada planum mastoid penderita, ini disebut posisi 1 ( satu ).
  • Setelah bunyi sudah tidak terdengar lagi letakkan garpu tala tegak lurus di depan meatus akustikus eksterna, ini disebut posisi 2 (dua ).
  • Kalau pada posisi 2 masih terdengar bunyi → Tes Rinne (+).
  • Kalau pada posisi 2 tidak terdengar bunyi → Tes Rinne (–).
  • Kalau pada posisi 1 terdengar berlawanan → Tes Rinne ragu – ragu4.

Gambar 4 : Tes Rinne

clip_image004clip_image005clip_image006

Tes Weber : Tes ini digunakan untuk membandingkan penghantaran bunyi melalui sebelah kanan / kiri penderita. Syarat melakukan tes Weber :

  • Garpu tala digetarkan.
  • Letakkan tegak lurus pada garis tengah kepala penderita, mis : dahi, ubun – ubun, rahang, kemudian suara yamg paling keras di kiri dan kanan.
  • Pada tes ini terdapat beberapa kemungkinan.
  • Bisa didapat hasil telinga kiri dan kanan sama keras terdengarnya, hal ini bisa berarati : normal atau ada gangguan pendengaran yang jenisnya sama.
  • Bisa juga didapatkan hasil telinga kiri > telinga kanan atau kiri < telinga kanan.
  • Lateralisasi ke kanan dapat berarti : adanya tuli konduksi sebelah kanan, telinga kiri dan kanan ada tuli konduksi, tetapi yang kanan lebih berat dari yang kiri, terdapat tuli persepsi disebelah kiri, keduanya tuli persepsi, keduanya tuli persepsi tetapi lebih berat yang kiri, kedua telinga tuli, kiri tuli persepsi, kanan tuli konduksi.5

Gambar 5 : Tes Weber

clip_image007clip_image008clip_image009

Berbagai macam tes diatas merupakan sebagian dari berbagai macam cara untuk mengetahui fungsi pendengaran seseorang. Sehingga untuk mengetahui dan mendiagnosa seseorang mengalami ketulian diperlukan tes – tes yang lain selain yang dipaparkan diatas.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonymous., 2007. The Whisper Tes t. www.privatehealth.co.uk/diseases/ear-nose-throat/barotrauma-of-the-ear. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2007, pk 15.00.
  2. Anonymous., 2007. The Ear Inspection. www.entornomedico.org /salud/saludyenfermedades/alfa-omega/barotrauma. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2007, pk 15.00.
  3. Anonymous., 2007. The Schwabach Test. www.yahoohealth.com Diakses pada tanggal 4 Agustus 2007, pk 15.00.
  4. Anonymous., 2007. The Rinne Test. www.paraqueestesbien.com/ hombre/cabeza/oidos/oidos3. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2007, pk 15.00.
  5. Anonymous., 2007. The Weber Test. www.yahoohealth.com Diakses pada tanggal 4 Agustus 2007, pk 15.00.

 

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget