Laporan Analisa Kasus PENGGUNAAN KLINIK OBAT ANTI MIKROBA

Tuesday, March 3, 2009

KASUS 02

Seorang wanita, bernama B, umur 20 tahun, pekerjaan tani, alamat Sampiri, datang dengan keluhan utama : berak encer campur darah dan lendir.

Pemeriksaan :

Keadaan umum : cukup, agak pucat, berat sesuai tinggi.

Jantung / paru dalam batas normal.

Abdomen : normal, hati dan lien tak membesar, nyeri tekan pada daerah caecum dan colon sigmoid.

Tidak ada tanda-tanda hemoroid externus dan internus.

Pemeriksaan Laboratorium :

Feces : Telur Ankilostoma +

Telur Trichocephalus dispar +

Telur Ascaris +

Tugas :

  1. Apa diagnosa kerja pada penderita ini ?
  2. Susunlah terapi bagi penderita ini !

Ternyata setelah diobati, penderita berak cacing besar yang banyak serta cacing kecil-kecil. Namun keluhan berak darah campur ingus, masih tetap ada, sehingga penderita kembali memeriksakan diri.

  1. Apa kira-kira dugaan anda tentang penyakit penderita ?
  2. Pemeriksaan apa yang anda anjurkan bagi penderita ?

Pada pemeriksaan laboratorik lanjut ternyata dijumpai pada hapusan feces, Entamoeba histolitika +.

  1. Apa sekarang diagnosa anda ?
  2. Susunlah terapi bagi penderita ini !
  3. Bagaimana tindak lanjut terhadap penyakit yang pertama dan penyakit yang baru ditemukan ini ?

Laporan Penatalaksanaan Kasus 02

? Data Kasus

Nama : Ny. B

Umur : 20 tahun

Kelamin : Wanita

Pekerjaan : Tani

Alamat : Sampiri

? Data Penyakit

Anamnesa : Berak encer campur darah dan lendir

Px fisik : Keadaan umum cukup, agak pucat, berat sesuai tinggi

Palpasi : Abdomen normal, hati dan lien tidak membesar, nyeri tekan pada daerah caecum dan colon sigmoid. Tidak ada tanda-tanda hemoroid externus dan internus.

Perkusi : Jantung / paru dalam batas normal

Px lab : Telur Ankilostoma +

Telur Trichocephalus dispar +

Telur Ascaris +

? Diagnosa Kerja ???

? Terapi

1) Mebendazol 2 X 200 mg/hari untuk 3 hari berturut-turut dan preparat Fe. Bila perlu pengobatan ulang, diberikan 3 minggu kemudian.

2) Pirantel pamoat + Oksantel pamoat + preparat Fe sesuai dosis dan lama pemakaian.

Setelah diobati, penderita berak cacing besar yang banyak serta cacing kecil-kecil. Namun keluhan berak darah campur ingus masih ada sehingga penderita kembali memeriksakan diri.

? Diagnosa : Amubiasis, Balantidiasis

Ternyata pada pemeriksaan laboratorium lanjut didapatkan Entamoeba histolitika + pada hapusan feces.

? Diagnosa Pasti : Amubiasis

? Terapi

Metronidazol tablet 250 mg dan 500 mg dosis oral 3 X 750 mg/hari selama 5-10 hari

? Saran

1) Penderita menjaga kebersihan tubuh

2) Cuci tangan sebelum makan

KASUS 03

Seorang lelaki, C, 34 tahun, alamat Bitung, pekerjaan pelaut, datang dengan malu-malu ke poliklinik dengan kelainan : kencing pedis dan gatal, serta ujung penis bernanah.

Anamnesa :

Katanya dia ketularan dari temannya, karena meminjam handuk teman tersebut.

Pemeriksaan :

Keadaan umum : baik, cor pulmo normal.

Abdomen : hepar / lien normal.

Alat kelamin : Orifisium uretra eksternum tampak merah, celana dalam basah dengan pus, bila penis dipencet keluar cairan nanah dari orifisium uretra.

Tugas :

1. Apa kira-kira diagnosa anda terhadap penderita ini ?

2. Susunlah beberapa alternatif terapi bagi penderita ini, untuk menjaga kemungkinan resistensi !

Pada saat penderita hendak disuntik, penderita memberi tahu bahwa dia pernah semaput sewaktu disuntik penisilin.

3. Terapi apa yang anda pilih sekarang ?

Setelah pemberian terapi, ternyata penderita datang lagi, dengan keluhan rasa gatal di dalam saluran kencing. Kencing nanah dan kencing pedis telah berkurang, tapi rasa gatal sangat mengganggu.

4. Pemeriksaan apa yang hendak anda lakukan pada penderita ini ?

Pada pemeriksaan endapan urine, dijumpai adanya Trichomonas.

5. Apa kini diagnosa anda ?

6. Susunlah terapi selanjutnya !

Laporan Penatalaksanaan Kasus 03

Data Kasus

Identitas penderita

Nama : Tn. C

Umur : 34 tahun

Alamat : Bitung

Pekerjaan : Pelaut

Anamnesa

Keluhan utama adalah kencing pedis dan gatal, ujung penis bernanah. Katanya dia ketularan dari temannya melalui handuk temannya.

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum baik, cor dan pulmo normal, hepar dan lien normal, alat kelamin (orifisium uretra externum) tampak merah, celana dalam basah dengan pus. Bila penis dipencet keluar cairan nanah dari orifisium uretra externum.

Diagnosa : Gonore

Patogenesis

Infeksi primer dimulai epitel silindris dari uretra duktus periuretralis atau beberapa kelenjar disekitarnya. Kuman juga dapat masuk lewat mukosa serviks, konjungtiva atau rektum. Kuman menempel dengan pili pada permukaan sel epitel atau mukosa. Kemudian kuman mencapai jaringan ikat di bawah epitel atau mukosa, setelah terlebih dahulu menembus ruang antar sel, selanjutnya terjadi reaksi radang. Eksudat yang terbentuk dapat menyumbat sel atau kelenjar hingga terjadi kista retensi dan abses. Terjadinya kerusakan pada sel epitel oleh gonokokus, menyebabkan terbentuknya celah mukosa, mempermudah dan mempercepat masuknya kuman.

Terapi

Beberapa pilihan obat yang dapat diberikan adalah :

1) Ampisilin 3,5 gr + 1 gr probenesid per oral

2) Amoxicilin 3 gr + 1 gr probenesid per oral

3) Seftriakson 250 mg IM

4) Tiamfenikol 2,5 gr per oral

5) Siprofloksasin 250 mg per oral

6) Penisilin G prokain 3 juta unit + 1 gr probenesid

7) Spektinomisin 2 gr IM

Karena pasien memiliki riwayat alergi terhadap golongan penisilin, maka terapi yang diberikan adalah Spektinomisin karena obat ini diberikan bila gonokokus resisten atau penderita alergi terhadap penisilin G. Dimana tidak terdapat reaksi silang antara obat ini dengan penisilin. Efek sampingnya minimal (mual, menggigil, demam, insomnia, urtikaria dan oligouria).

Setelah pemberian terapi, penderita datang lagi denga keluhan rasa gatal dalam saluran kencing. Kencing nanah dan pedis telah berkurang tapi rasa gatal sangat mengganggu. Kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan hapus serta pembiakan. Pada pemeriksaan endapan urine, dijumpai adanya Trichomonas.

Diagnosa Pasti : Trichomoniasis

Patogenesa

T.vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel. Masa tunas rata-rata 4 hari – 3 minggu. Pada kasus lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan uretra, parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman dan benda lain yang terdapat dalam sekret.

Terapi

o Pengobatan dapat diberikan secara topikal dan sistemik.

Secara topikal :

- Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 1-2 % dan larutan asam laktat 4 %

- Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal

- Gel dan krim yang berisi zat trikomoniasidal

Secara sistemik :

- Metronidazol dosis tunggal 2 gr atau 3 X 500 mg per hari selama 7 hari

- Tinidazol dosis tunggal 2 gr

o Pengobatan yang dipilih adalah metronidazol karena cukup efektif untuk kuman gram negatif dengan efek samping minimal seperti sakit kepala, mual, mulut kering dan kecap logam.

Prognosa

Baik jika penderita mempertahankan higiene genitalia dan mengikuti anjuran yaitu :

1) Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan sampai terjadi infeksi pingpong.

2) Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh.

3) Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

KASUS 04

Seorang wanita D, umur 20 tahun, memeriksakan diri di BKIA dengan keluhan utama : hamil, nyeri pinggang kanan dan panas. Hari pertama haid terakhir, lima bulan yang lalu.

Pemeriksaan :

Keadaan umum cukup, suhu 39,3 °C, tensi 115/70 mmHg

Jantung / paru tak ada kelainan

Hepar / lien normal

Penderita mengeluh nyeri saat ditekan pada daerah angulus costo vertebralis kanan

Nyeri tekan sampai suprapubis (-)

Pemeriksaan obstetri :

Tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat, teraba balotemen bayi, bunyi jantung anak (+)

Pemeriksaan Urine : Albumin (+/-), Reduksi (-)

Sedimen : Leukosit (+++), Torak hialin (+), Eritrosit 5-6

Diagnosa yang ditegakkan yaitu : Pyelitis gravidarum. Penderita disarankan masuk rumah sakit untuk mendapat pengobatan.

Tugas :

1. Susunlah beberapa alternatif pengobatan bagi penderita ini !

Penderita kemudian diberi obat anti mikroba awal, sambil menunggu hasil biakan urine. Selama menunggu biakan urine, penderita tetap panas. Tiga hari kemudian, hasil biakan menunjukkan : E. coli (+)

Hasil antibiogram (sensitivity test) nanti ada 3 hari lagi.

2. Pengobatan apa yang dapat diberikan sambil menunggu sensitivity test ?

Hasil sensitivitas kuman dari Lab. Mikrobiologi

Amoksilin : Resisten Ampisilin : Resisten

Trimetoprim : Resisten Nitrofurantoin : Resisten

Sefatoksim : Sensitif Kanamisin : Sensitif

Siprofloksasin : Sensitif Karbenisilin : Resisten

3. Antibiotika apa yang saudara pilih, dan jelaskan alasannya ! (Faktor harga tidak jadi masalah karena penderita memilih dirawat di ruang VIP)

Setelah pengobatan selama 2 minggu, pada minggu pertama kelihatan penderita membaik. Tetapi pada hari ke-12 penderita mengeluh panas lagi, dan mengeluh luka-luka di mulut dan pada vulva. Pada biakan urine kontrol ternyata dijumpai Candida albicans (+) sedangkan E. coli (-).

4. Apa kiranya yang terjadi pada penderita ini ?

5. Bagaimana tindakan lanjut ?

Laporan Penatalaksanaan Kasus 04

Data Kasus

Nama : Ny. D

Alamat : Malalayang I

Umur : 20 tahun

Kelamin : Wanita

Pekerjaan : Direktur Teramoda

Status : Menikah

Data Penyakit

- Anamnesa : Penderita datang dengan keluhan utama hamil, nyeri di pinggang kanan dan panas. Hari pertama haid terakhir adalah 5 bulan yang lalu

- Px fisik : Keadaan umum baik; suhu 39,3 °C; tensi 115/70 mmHg; jantung dan paru tidak ada kelainan; hepar dan lien normal; penderita mengeluh nyeri saat ditekan pada daerah ngulus costo vertebralis kanan; nyeri tekan suprapubis (-)

- Px obstetri : Tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat, teraba balotemen bayi, bunyi jantung bayi (+)

- Px urine : Albumin (+/-), Reduksi (-), Sedimen (leukosit +++, torak hialin +, eritrosit 5-6)

Diagnosis : Pyelitis Gravidarum

Patogenesa

Pyelitis adalah radang dari piala ginjal. Pyelitis gravidarum sering disebabkan oleh E. coli (70-80 %). Sering bilateral, kadang-kadang unilateral (biasanya sebelah kanan). Yang memudahkan terjadinya infeksi adalah bendungan urine karena atonia ureter. Penjalaran basil adalah dari usus besar melalui jalan limfe ke pyelum. Bendungan dan atoni ureter dalam kehamilan mungkin disebabkan progesteron, obstipsi atau tekanan uterus yang membesar pada ureter. Kadang dapat meluas mendi pyelonefritis.

Alternatif Pengobatan

a. Secara farmakologik

Beberapa obat anti mikroba yng dapat dipakai dalam kasus ini, yaitu Amoxicilin, Ampicilin, Trimetoprim, Sefatoksim, Siprofloksasin, Kanamisin dan Karbenisilin.

Namun karena penyebabnya belum diketahui pasti maka obat anti mikroba yang diberikan pada pasien adalah yang berspektrum luas, yaitu Ampisilin dengan dosis 3-4 X 500 mg/hari, ½-1 jam sebelum makan. Obat ini bersifat aman bagi wanita hamil, mudah didapat, murah dan efek sampingnya kurang yaitu gangguan saluran cerna, urtikaria, eritema multiforme dan black hairy tangue. Dan mengingat keadaan pasien yang mengalami peningkatan suhu tubuh, maka dapat pula ditambahkan dengan anti piretik, yaitu Paracetamol 4 X 500 mg/hari.

b. Secara non farmakologik

Pasien dinasehatkan agar banyak minum air putih agar air kencing menjadi banyak dan tidak ada bendungan dalam rongga panggul. Buang air juga diusahakan teratur.

Tidur ke arah badan yang sehat kadang-kadang dianjurkan untuk memudahkan drainase ginjal yang sakit.

Setelah 3 hari, hasil biakan menunjukkan E. coli (+) dan penderita masih tetap panas (hasil sensitivity test baru akan diterima 3 hari kemudian). Hal ini mengindiksikan adanya kemungkinan resisten Ampisilin sehingga perlu dipikirkan adanya terapi pengganti. Namun perlu diingat OAM yng aman bagi wanita hamil adalah golongan penisilin dan makrolid. Golongan makrolid tidak efektif untuk gram negatif, sehingga yang menjadi pilihan adalah Amoxicilin yang juga merupakan golongan broad spectrum penisilin, dengan dosis 3 X 500 mg/hari.

Tiga hari kemudian (hari ke-6), hasil seneitivitas kuman dari Lab. Mikrobiologi menunjukkan bahwa ada 3 obat yang masih sensitif, yaitu Siprofloksasin, Sefatoksim dan Kanamisin.

Untuk kasus ini, maka obat yang dipilih adalah Siprofloksasin, dosis 2 X 500 mg/hari. Efek sampingnya dapat berupa gangguan saluran cerna (mual, muntah dan hilang nafsu makan), juga sakit kepala, vertigo dan insomnia. Alasan pemakaian obat ini :

Golongan sefalosporin hanya digunakan untuk pengobatan infeksi bakteri berat atau yang tidak dapat diobati dengan anti mikroba lain. Juga masih merupakan alternatif untuk penisilin bagi yang tidak tahan penisilin.

Golongan aminoglikosid, sekalipun berspektrum luas, tapi jangan digunakan pada setiap jenis infeksi oleh kuman yang sensitif karena resistensinya relatif cepat berkembang, toksisitasnya relatif meningkat (tidak aman untuk wanita hamil) dan tersedianya berbagai antibiotik lain yang cukup efektif dengan toksisitas yang rendah.

Siprofloksasin, daya anti bakterinya lebih kuat dengan masa paruh eliminasinya panjang sehingga obat cukup diberikan 2X sehari.

Setelah pengobatan 2 minggu, pada minggu pertama kelihatan penderita membaik, tapi pada hari ke-12 penderita mengeluh panas lagi dan luka di mulut dan vulva. Pada biakan urine kontrol ternyata ditemukan Candidia albican (+) dan E. coli (-). Yang terjadi pada penderita ini kemungkinan adalah superimposed infection akibat infeksi opportunis dan penggunaan antibiotik spektrum luas yang lama. Tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah pemberian obat anti jamur, seperti :

1. Nystatin oral 3-4 X 500.000 IU/hari untuk infeksi pada mukosa mulut. Obat ini tidak langsung ditelan tapi ditahan dulu dalam rongga mulut. Jarang sekali ditemukan efek samping yng berarti. Mual, muntah dan diare ringan mungkin didapatkan. Aman bagi wanita hamil.

2. Klotrimazol krem vaginal 1 %, dioleskan sekali sehari pada malam hari selama 7 hari untuk mengatasi infeksi pada vulva. Obat ini sangat sedikit diserap oleh vagina sehingga aman bagi wanita hamil. Kerjanya dalam memusnahkan jamur lebih cepat daripada obat anti jamur lainnya. Efek samping yang mungkin timbul adalah rasa terbakar, eritema, edema, gatal dan urtikaria.

Prognosis : Baik, jika dilakukan dengan benar dan teratur.

Tindak Lanjut

Penderita disarankan agar meningkatkan hygiene

Menjaga kehamilan dengan baik dan rajin memeriksakan dirinya

Menjaga asupan energi dan gizi yang cukup.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget