SOMATOFORM DISORDERS (GANGGUAN SOMATOFORM)

Thursday, February 5, 2009

Darryl Virgiawan Tanod, S.Ked

Unsur kata dari gangguan somatoform berasal dari bahasa Yunani yaitu soma yang artinya tubuh dimana pada gangguan ini yang paling jelas terlihat adalah gangguan dan gejala pada kondisi fisik yang mengarah pada suatu kondisi medis tertentu, walaupun didalam pemeriksaan gejala dan kondisi fisik ini tidak dapat diketahui atau dijelaskan sepenuhnya seperti kita mengetahui gangguan medis lainnya. Gejala-gejala dari gangguan somatoform ini cukup parah untuk dapat menyebabkan penderitaan ‘distrees’ dan gangguan fungsional pada pasien.
Didalam DSM-IV-TR dikenal 5 gangguan somatoform yang spesifik : gangguan somatisasi, gangguan konversi, hipokondriasis, gangguan tubuh dismorfik, dan gangguan nyeri. Dua kategori diagnostik residual dalam DSM-IV-TR adalah : gangguan somatoform yang tidak dapat dideferensiasi dan gangguan somatoform yang tidak spesifik.
1.Epidemiologi
a. Lifetime prevalensi pada populasi umum adalah 0,1-0,5%
b. Wanita lebih daripada pria dengan ratio 5:1.
c. Lifetime prevalensi pada semua wanita adalah 1-2%.
d. Lebih sering terjadi pada orang yang berpendidikan rendah dan orang yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah.
e. Onset awal biasanya terjadi pada dewasa dan dewasa muda.
2.Etiologi
a. Psikososial-supresi atau represi atas rasa marah terhadap orang lain, maupun rasa marah terhadap diri sendiri, dapat menjadi salah satu penyebab dari gangguan ini. Kurangnya rasa menghargai diri sendiri juga dapat menjadi salah satu penyebab gangguan ini. Orang tua yang memiliki gangguan ini juga dapat mempengaruhi sebab terjadinya gangguan pada pasien. Beberapa diantaranya memiliki sebab yang sama seperti sebab pada depresi.
b. Genetik-Riwayat dari keluarga yang positif mengalami gangguan ini : Saat ini 10-20% yang terkena adalah ibu dan anak perempuan; pada kembar-indeks rata-rata adalah 29% pada kembar monozigot dan 10% pada kembar dizigot.
3.Test laboratorium dan test psikologi.
Pada beberapa pasien terdapat ketidaknormalan pada neuropsikologi minor
( contoh : salah menilai terhadap input somatosensoris).
4.Patofisiologi.
Penggunaaan obat jangka panjang dapat menyebabkan efek yang merugikan yang tidak bersangkutan dengan keluhan pada gangguan somatisasi.Beberapa data menerangkan atau mengindikasikan bahwa regulasi sitokin yang tidak normal berpengaruh terhadap gangguan ini.
5.Diagnosa, tanda dan gejala.
a. Banyaknya keluhan somatik dengan riwayat pengobatan yang rumit.
b. Keluhan yang paling sering adalahnyeri, gejala-gejala gastrointestinal, gangguan seksual, dan tanda-tanda gangguan neurology ( contoh : pusing, amnesia ).
c. Adanya pemikiran untuk bunuh diri yang seringkali muncul, tetapi untuk sampai melakukannya jarang.
d. Keluhan depresi dan anxietas biasanya muncul: masalah terhadap hubungan perseorangan sering terjadi.Lihat tabel 12-2.
6.Diferensial diagnosa.
a. Multiple sclerosis : kelemahan pada semua otot-otot tubuh.
b. Sindrom kelelahan kronik : dapat disebabkan oleh virus Epstein-Barr.
c. Porphyria : nyeri abdomen, urine yang berwarna merah.
d. Schizofrenia : gangguan pikiran, halusinasi. Waham yang bersifat somatic dapat juga terjadi.
e. Serangan panic : intermitten, episodic. Gejala dapat berupa anxietas dan panic.
f. Gangguan konversi : Gejala-gejala yang sedikit dengan arti simbolis yang nyata.
g. Gangguan factitial : Gejala yang secara tidak sadar diinginkan oleh pasien: biasanya ingin berada sirumah sakit.
h. Gangguan nyeri : nyeri biasanya merupakan satu-satunya keluhan.
7.Prognosis dan perjalanan penyakit.
Perjalanan penyakit yang sudah kronik dengan minimnya remisi: walaupun, beratnya keluhan dapat berubah-ubah. Komplikasi menyangkut tidak perlunya operasi, pengobatan yang berulang, ketergantungan terhadap zat-zat kimia, dan efek yang merugikan dari resep obat yang tidak perlu. Sering terjadi depresi.
8.Terapi
a. Farmakologi : menhindari psikotropika, terkecuali selama periode terjadinya gangguan anxietas dan depresi, karena pasien biasanya menjadi tergantung secara psikologik. Antidepresan berguna pada sekunder depresi.
b. Psikologika : Pengertian serta dukungan terapi psikologi yang terus-menerus sangat diperlukan untuk mendukung pemahaman tentang perubahan –perubahan yang akan terjadi, dukungan untuk melewati hidup yang sulit.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget