CHRONIC HYPERTENSION DURING PREGNANCY (HIPERTENSI KRONIK SELAMA KEHAMILAN)

Thursday, February 5, 2009


Darryl Virgiawan Tanod, Sked

PENDAHULUAN
Hipertensi pada kehamilan merupakan suatu penyakit yang sangat sering menyertai suatu kehamilan dimana hal ini sangat mempengaruhi angka kematian ibu dan janin.1
Penyakit hipertensi pada kehamilan diklasifikasikan sebagai berikut2,3,4 :
A. Preeklampsia – Eklampsia.
Hipertensi dan proteinuria setelah kehamilan 20 minggu.
B. Hipertensi kronik dengan atau tanpa superimposed preeclampsia
Hipertensi kronik yang disertai proteinuria.
C. Hipertensi kronik
D. Hipertensi gestasional
Timbul hipertensi pada kehamuilan yang tidak disertai proteinuria hingga 12 minggu paska persalinan.
Hipertensi kronik sendiri didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmhg yang telah ada sebelum kehamilan, pada saat kehamilan 20 minggu yang bertahan sampai lebih dari 20 minggu pasca partus1 atau setelah 12 minggu menurut kepustakaan yang lain.4 Hipertensi pada kehamilan secara epidemiologi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Usia
Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten.
2. Paritas
Angka kejadian tinggi pada prmigravida muda maupun tua. Primigravida tua berisiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat.
3. Faktor keturunan
Jika ada riwayat hipertensi, pre-eklampsia, eklampsia pada ibu atau nenek penderita. Faktor risiko meningkat sampai 25%.
4. Faktor gen
Diduga adanya suatu sifat resesif ( recessive trait ), yang ditentukan genotip ibu dan janin.
5. Diet / gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu atau pola diet tertentu ( WHO ). Penelitian lain mengatakan bahwa kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih tinggi pada ibu hamil yang mengalami obesitas atau overweight.
6. Iklim / musim
Di daerah tropis insidens lebih tinggi
7. Tingkah laku / sosioekonomi
Kebiasaan merokok selama hamil memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat. Aktifitas fisik selama hamil serta istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi kemungkinan atau insidens hipertensi dalam kehamilan.2

Etiologi dan diagnosis
Pada hipertensi kronik etiologinya sebagian besar tidak diketahui ( idiopatik ) sedangkan sisanya berhubungan dengan penyakit ginjal juga diabetes mellitus. Diagnosis pada hipertensi kronik bila ditemukan pada pegukuran tekanan darah ibu ≥ 140/90 mmhg sebelum kehamilan atau pada saat kehamilan mencapai 20 minggu serta didasarkan atas faktor risiko yang dimiliki ibu, yaitu : pernah eklampsia, umur ibu > 40 tahun, hipertensi > 4 tahun, adanya kelainan ginjal, adanya diabetes mellitus, kardiomiopati, riwayat pemakaian obat anti hipertensi. Diperlukan juga adanya pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan laboratorium ( darah lengkap, ureum, kreatinin, asam urat, SGOT, SGPT ), EKG, Opthalmology, USG.1,3,4
Dahulu direkomendasikan bahwa yang digunakan sebagai kriteria diagnosis adalah peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg, bahkan apabila angka absolut dibawah 140/90 mmhg. Kriteria ini tidak lagi dianjurkan. Namun, wanita yang mengalami peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmhg atau diastolik 15 mmhg perlu diawasi dengan ketat.4

Komplikasi pada ibu dan janin
Pada wanita hamil yang mengalami hipertensi kronik terjadi peningkatan angka kejadian stroke. Selain itu komplikasi lain yang sangat mengkhwatirkan yaitu terjadinya superimposed preeclampsia dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi hepar, gagal ginjal, serta tendensi timbulnya perdarahan yang meningkat dan perburukan kearah eclampsia.4,5
Pada janin sendiri dapat terjadi bermacam – macam gangguan sampai kematian janin dimana efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil akan merusak sistem vaskularisasi darah, sehingga mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi melalui plasenta dari ibu ke janin. Hal ini bisa menyebabkan prematuritas plasental dengan akibat pertumbuhan janin yang lambat dalam rahim, bahkan kematian janin.5

Penanganan
Pengelolaan pada wanita hamil dengan hipertensi kronik bertujuan untuk menurunkan risiko kematian maternal, menurunkan mortalitas dari janin dengan pemakaian medikamentosa yang minimal.8 Sehingga penatalaksanaan hipertensi ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti superimposed preeclampsia, eklampsia, juga monitoring unit feto – placental, mengobati hipertensi dan melahirkan janin dengan baik harus juga diperhatikan dalam persalinan sangat penting untuk mengontrol tekanan darah, monitoring keseimbangan cairan dan diuresis.1,4,5
Bila didapatkan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya segera di rawat di rumah sakit dan diharuskan untuk istirahat total. Istirahat total memiliki efek yang baik dimana akan meningkatan aliran darah renal dan utero plasental. Peningkatan aliran darah renal akan meningkatkan diuresis dan mengurangi oedema.1,4,6
Pada hipertensi yang ringan dilakukan terapi konservatif, sedapat mungkin janin dilahirkan pervaginam. Pada hipertensi berat kehamilan secepat mungkin diterminasi.6

Mortalitas
Pada kehamilan disertai dengan hipertensi kronik di Indonesia sendiri masih merupakan penyakit yang meminta korban besar bagi ibu dan bayi.2 Kematian ibu yang disebabkan oleh gangguan ini berkisar 15,7% di USA antara tahun 1991-1999.5 Hal ini berhubungan erat dengan pemeriksaan antenatal serta perawatan ibu hamil yang kurang ditambah dengan fasilitas kesehatan yang minim. Karena itu pemeriksaan antenatal yang baik dan tersediannya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian maternal.7

Prognosis
Pada kehamilan yang disertai hipertensi kronik, prognosis dapat kearah baik maupun kearah perburukan. Asal tidak terjadi penyulit serta komplikasi yang lain terhadap proses kehamilan dan kelahiran. Dengan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang memadai angka kematian ibu dan anak dapat ditekan. Pemeriksaan kehamilan yang berkesinambungan memberi prognosis yang semakin baik.8

LAPORAN KASUS
IDENTITAS
• Nama : Ny. RS 
• Umur : 35 tahun
• Pendidikan : SMA
• Pekerjaan : Ibu rumah tangga
• Alamat : Kalasey, jaga II
• Suku : Minahasa
• Bangsa : Indonesia
• Agama : Kristen protestan
• Nama suami : Tn. Jantje Sulu
• Umur : 45 tahun
• Pekerjaan : Swasta
• MRS : 6 Desember 2008, jam : 10.30 wita.

ANAMNESIS
• Anamnesis utama
Diberikan oleh penderita
• Keluhan utama
Nyeri perut bagian bawah ingin melahirkan
• Riwayat penyakit sekarang
Nyeri perut bagian bawah dirasakan oleh penderita mulai teratur. Pelepasan lendir campur darah dari jalan lahir (+). Pelepasan air (-) dari jalan lahir. Pergerakan janin masih dirasakan saat MRS. Riwayat perdarahan sebelumnya (-) dari jalan lahir. Buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) biasa.
• Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit darah tinggi (+) sejak 1 tahun yang lalu, penderita berobat teratur. Riwayat penyakit jantung, paru, hati, ginjal, kencing manis, disangkal oleh penderita.
• Anamnesis kebidanan
Riwayat kehamilan sekarang
Pemeriksaan Ante natal (PAN) : PAN dilakukan sebanyak 7 kali di dokter ahli.
Riwayat Haid : Haid pertama pada usia 16 tahun dengan siklus yang teratur dan lamanya haid tiap siklus 3 hari. Hari pertama haid terakhir (HPHT) 18 Maret 2008 dan taksiran tanggal partus 25 Desember 2008.
Riwayat perkawinan
Penderita menikah satu kali dengan suami yang sekarang selama 18 tahun. Jumlah anak sekarang 1 orang.
Keluarga berencana (KB)
Pernah memakai KB implant, dan dilepas pada tahun 2002.
Riwayat kehamilan terdahulu
P1, perempuan, seksio sesarea ai Makrosomia, BBL 4500 gr, 1994 oleh dokter.

PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan fisik umum
Status Praesens
Keadaan umum : Cukup
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital : Tekanan darah : 140/90 mmhg
Nadi : 88 x/mnt
Respirasi : 24 x/mnt
Suhu badan : 36,4 ⁰C
Kepala : Konjungtiva anemis (-), sclera ikterik (-)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Dada : Simetris kiri = kanan
Jantung : Bising (-), bunyi jantung I dan II normal
Paru – paru : Rokhi (-), Wheezing (-)
Abdomen : Hepar dan lien sukar dievaluasi
Alat kelamin : Tidak ada kelainan
Anggota gerak : Edema (-) pada tungkai, varises (-)
Refleks : Refleks fisiologis (-), reflex patologis (-)
Kulit : Turgor normal
Status Gizi
Berat badan : 86 Kg
Tinggi badan : 151 cm
Keadaan Gizi : Cukup
• Status obstetri
Pemeriksaan Luar
Tinggi fundus uteri (TFU) : 31 cm
Letak janin : letak kepala U punggung kiri
Bunyi jantung janin (BJJ) : 12-13-12
His : 8’-9’/10”-15”
TBBA : 3200 gr ( palpasi )
• Pemeriksaan dalam (PD)
Effisment 75% pembukaan 1-2 cm ketuban (+) PP kepala H1 SS melintang
• Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : Hb : 13,8 gr/dl
Leukosit : 8800/mm3
Trombosit : 178.000 mm3
GDS : 66 mg/dl
Urine bakar : Protein (-)
NST : Kesan reaktif
Konsul mata : tidak ada kelainan
Konsul interna : hipertensi grade I
EKG : dalam batas normal

RESUME MASUK
G2P1A0 35 tahun MRS 6 Desember 2008 jam 10.30 wita dengan keluhan utama : nyeri perut bagian bawah ingin melahirkan. Tanda inpartu (+). Penderita menderita hipertensi sejak 1 tahun yang lalu tapi penderita berobat teratur. HPHT 18 Maret 2008. TTP : 25 Desember 2008. PAN 7 kali di dokter ahli.
Status praesens : Keadaan umum : cukup ; Kesadaran : Compos mentis
T : 140/90 mmhg, N : 88 x/m, R : 24 x/m, S : 36,6 ⁰C
Status obstetri : TFU : 31 cm
BJJ : 12-13-12
TBBA : 3200 gr ( palpasi )
Letak janin : Letak kepala U punggung kiri
His : 8’-9’/10”-15”
Diagnosis
G2P1A0 35 tahun hamil 37-38 minggu, inpartu kala I dengan hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun.
Janin intra uterin tunggal hidup letak kepala H1.
Sikap
- Konseling
- Seksio sesarea cito
- Sedia donor, setuju operasi
- Laboratorium, EKG, NST
- Observasi TNRS, BJJ, His
- Dopamet 3 x 250 mg
- Konsul mata dan interna
- Lapor konsulen, advis SC

OBSERVASI
Tanggal 06 Desember 2008
Jam 10.30 wita
Status praesens :
KU : Cukup Kesadaran : Compos mentis
T : 140/90 mmhg, N : 88 x/m, R : 24 x/m, S : 36,6 ⁰C
Pemeriksaan dalam (PD) :
Effisment 75%, pembukaan 1-2 cm, PP kepala H1, SS melintang
Diagnosis :
G2P1A0 35 tahun hamil 37-38 minggu, inpartu kala I dengan hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun.
Janin intra uterin tunggal hidup letak kepala H1.
Sikap :
- Konseling
- Seksio sesarea cito
- Sedia donor, setuju operasi
- Laboratorium, EKG, NST
- Observasi TNRS, BJJ, His
- Dopamet 3 x 250 mg
- Konsul mata dan interna
- Lapor konsulen, advis SC
Jam 10.30 – 11.00 wita
His 8’-9’/10”-15”. BJJ 13-12-13
Jam 11.00 – 11.30 wita
His 8’-9’/10”-15”. Bjj 12-13-12
Jam 11.30 – 12.00 wita
His 8’-9’/10”-15”. Bjj 12-12-13
Jam 12.00 – 12.30 wita
His 8’-9’/10”-15”. Bjj 12-12-13
Jam 12.30 – 13.00 wita
His 8’-9’/10”-15”. Bjj 12-12-13
Jam 13.00 – 13.30 wita
His 7’-8’/15”-20”. Bjj 12-13-12
Jam 13.30 – 14.00 wita
His 7’-8’/15”-20”. Bjj 12-13-12
Jam 14.00 wita
Penderita didorong ke kamar operasi
Jam 14.35 wita
Operasi dimulai, dilakukan SCTP
Jam 14.40 wita
Lahir bayi laki – laki, berat badan lahir 2750 gr, panjang badan lahir 49 cm, apgar skore 7-9 Dilanjutkan dengan sterilisasi pomeroy.

Jam 15.40 wita
Operasi selesai

Keadaan umum post operasi
KU : Cukup, T : 130/90 mmhg, N : 88 x/m, R : 24 x/m S : 36,8 ⁰C.
TFU : 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik
Perdarahan ± 600 cc
Diuresis ± 200 cc

Laporan Operasi
Penderita dibaringkan terlentang di atas meja operasi, dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada abdomen dan sekitarnya. Kemudian abdomen ditutup dengan doek steril pada lapangan operasi. Dilakukan general anestesi kemudian dalam narkose dilakukan insisi linea mediana inferior. Insisi diperdalam lapis demi lapis secara tajam dan tumpul sampai mencapai peritoneum. Peritonium dijepit dengan 2 pinset, kemudian digunting kecil dan diperdalam ke kanan dan ke kiri.
Tampak uterus gravidarum lalu dipasang hak abdomen, identifikasi SBR plika vesikouterina lalu dijepit dengan kocher, digunting kecil, diperlebar ke kanan dan ke kiri. Vesika urinaria disisihkan ke bawah dan dilindungi dengan hak besar. Dilakukan insisi semi lunar pada SBR dan kavum uteri di tembus secara tumpul dengan klem. Keluar cairan putih keruh ± 100 cc. Identifikasi bayi letak kepala, bayi dilahirkan dengan menarik kepala. Jam 14.40 wita lahir bayi laki-laki , BBL : 2750 gr, PBL : 49 cm, AS : 7-9 sementara jalan napas dibersihkan, tali pusat diklem dengan 2 kocher dan digunting diantaranya lalu janin diserahkan pada neonati untuk perawatan selanjutnya.
Lalu SBR dijahit 2 lapis dengan chromic catgut, lapisan pertama dijahit denagan simpul, lapisan kedua dijahit dengan jelujur. Kontrol perdarahan, dilakukan reperitonealisasi.
Eksplorasi kedua tuba falopi dan ovarium, ditemukan baik, uterus normal. Dilanjutkan dengan dilakukan sterilisasi cara pomeroy. Kavum abdomen dibersihan dari sisa-sisa bekuan darah. Dinding perut dijahit lapis demi lapis peritoneum dijahit dengan plain catgut secara simpul. Fascia dijahit dengan Dexone secara jelujur. Lemak dijahit denagn plain catgut secara simpul. Kulit dijahit secara subkutikuler dengan Chromic catgut. Luka operasi ditutup dengan gaas betadine. Operasi selesai.

Instruksi post operasi
• Kontrol tanda vital, perdarahan, diuresis
• Puasa sampai peristaltik usus (+)
• IVFD RL : D5 = 2:2 = 20 gtt/mnt
• Cefotaxime inj 3 x 1 gr IV
• Metronidazole inj 3 x 0,5 gr IV
• Oksitosin inj 3 x 1 amp IV
• Vitamin C inj 1 x 1 amp IV
• Kaltrofen supp 1 x 2
• Kontrol Hb 6 jam post operasi

Hasil Hb 6 jam post operasi
HB : 11,6 gr/dl
Leukosit : 14.800/mm3
Trombosit : 183.000/mm3

FOLLOW UP MASA NIFAS
07 Desember 2008
S : Keluhan (-)
O : KU : cukup Kes : Compos mentis
T : 110/70 mmhg, N : 80 x/mnt, R : 20 x/mnt, S : 36,6 ⁰C
Status Puerpuralis : Mamae : Laktasi -/-, infeksi -/-
Uterus : TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi baik.
BAB/BAK : Baik
Abdomen : Lemas, luka operasi tertutup gaas betadine Peristaltik usus (+).
A : P2A0 35 tahun post SCTP + sterilisasi pomeroy ai hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun hari ke-I.
Lahir bayi laki-laki, BBL : 2750 gr, PBL : 49 cm, AS : 7-9.
P : Konseling
IVFD RL : D5 = 2:2 = 20 gtt/mnt
Inj Cefotaxime 3 x 1 gr IV
Metronidazole 2 x 0,5 gr drips IV
Vit C inj 1 x 1 ampul IV
Diet biasa
08 Desember 2008
S : Keluhan (-)
O : KU : cukup Kes : Compos mentis
T : 110/70 mmhg, N : 84 x/mnt, R : 22 x/mnt, S : 36,4 ⁰C
Status Puerpuralis : Mamae : Laktasi -/-, infeksi -/-
Uterus : TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi baik.
BAB/BAK : Baik
Abdomen : Lemas, luka operasi terturup gaas betadine Peristaltik usus (+).
A : P2A0 35 tahun post SCTP + sterilisasi pomeroy ai hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun hari ke-II.
Lahir bayi laki-laki, BBL : 2750 gr, PBL : 49 cm, AS : 7-9.
P : Konseling
Off Infus
Cefadroxil caps 3 x 500 mg
Metronidazole 3 x 500 mg
Becom C caps 1 x 1
Diet biasa
Mobilisasi

09 Desember 2008
S : Keluhan (-)
O : KU : cukup Kes : Compos mentis
T : 110/70 mmhg, N : 84 x/mnt, R : 22 x/mnt, S : 36,4 ⁰C
Status Puerpuralis : Mamae : Laktasi -/-, infeksi -/-
Uterus : TFU 3 jari bawah pusat, kontraksi baik.
BAB/BAK : Baik
Abdomen : Lemas, luka operasi terturup gaas betadine Peristaltik usus (+).
A : P2A0 35 tahun post SCTP + sterilisasi pomeroy ai hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun hari ke-III.
Lahir bayi laki-laki, BBL : 2750 gr, PBL : 49 cm, AS : 7-9.
P : Konseling
Cefadroxil caps 3 x 500 mg
Metronidazole 3 x 500 mg
Becom C caps 1 x 1
Rawat luka bekas operasi
Diet biasa
Mobilisasi

10 Desember 2008
S : Keluhan (-)
O : KU : cukup Kes : Compos mentis
T : 120/70 mmhg, N : 80 x/mnt, R : 22 x/mnt, S : 36 ⁰C
Status Puerpuralis : Mamae : Laktasi +/+, infeksi -/-
Uterus : TFU 3 jari bawah pusat, kontraksi baik.
BAB/BAK : Baik
Abdomen : Lemas, luka operasi terturup gaas betadine Peristaltik usus (+).
A : P2A0 35 tahun post SCTP + sterilisasi pomeroy ai hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun hari ke-IV.
Lahir bayi laki-laki, BBL : 2750 gr, PBL : 49 cm, AS : 7-9.
P : Konseling
Cefadroxil caps 3 x 500 mg
Metronidazole 3 x 500 mg
Becom C caps 1 x 1
Diet biasa
Mobilisasi
Rencana rawat jalan

11 Desember 2008
S : Keluhan (-)
O : KU : cukup Kes : Compos mentis
T : 110/70 mmhg, N : 88 x/mnt, R : 22 x/mnt, S : 36,4 ⁰C
Status Puerpuralis : Mamae : Laktasi +/+, infeksi -/-
Uterus : TFU 3 jari bawah pusat, kontraksi baik.
BAB/BAK : Baik
Abdomen : Lemas, luka operasi terturup gaas betadine Peristaltik usus (+).
A : P2A0 35 tahun post SCTP + sterilisasi pomeroy ai hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun hari ke-V.
Lahir bayi laki-laki, BBL : 2750 gr, PBL : 49 cm, AS : 7-9.
P : Konseling
Cefadroxil caps 3 x 500 mg
Metronidazole 3 x 500 mg
Becom C caps 1 x 1
Pasien dipulangkan

DISKUSI
Pada kasus ini telah dilakukan seksio sesarea atas indikasi hipertensi kronis + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun. Hal – hal yang akan dibahas pada kasus ini antara lain :
1. Etiologi
2. Diagnosis
3. Penanganan
4. Komplikasi
5. Prognosis

A. Etiologi
Pada kasus ini terdapat penyulit kehamilan yaitu hipertensi kronis dimana diagnosis ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dimana penderita ini memiliki riwayat hipertensi sejak 1 tahun yang lalu dengan pengobatan teratur dan pada pemeriksaan fisik saat masuk didapatkan tekanan darah penderita 140/90 mmhg hal ini makin diperberat dengan adanya kehamilan dimana sesuai dengan kepustakaan bahwa salah satu penyebab tekanan darah semakin meningkat saat kehamilan adalah karena pada wanita hamil terjadi peningkatan hambatan dalam pembuluh – pembuluh darah perifer terutama akibat vasokontriksi umum.7 Hipertensi yang didapatkan pada pasien ini termasuk hipertensi stadium 1 setelah dikonsulkan di Interna dimana menurut kepustakaan hipertensi stadium ini memiliki tekanan sistolik 140 – 159 mmhg dan diastolik 90 – 99 mmhg.1
Namun dalam kasus ini tidak didapat keterangan lebih rinci mengenai penyakit terdahulu penderita yaitu hipertensi, seperti berapa tekanan darah yang biasa terukur pada penderita, dan apakah penderita memang benar - benar mentaati anjuran dokter sehubungan dengan penyakit hipertensi yang dialami. Hal ini berhubungan dengan diagnosis serta efek pada kehamilan nantinya, dimana menurut kepustakaan bahwa hipertensi kronis pada ibu jika tekanan darah ≥ 140/90 mmhg sebelum kehamilan.4
Pada kasus ini tidak didapatkan keterangan yang lebih rinci mengenai pemeriksaan antenatal (PAN) yang dilakukan ibu, apakah selama masa kehamilan terdapat gangguan pada ibu dan janin juga tidak diketahui scara jelas.
B. Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kebidanan serta pemeriksaan laboratorium, didapatkan diagnosis G2P1A0 35 tahun hamil 37-38 minggu, inpartu kala I dengan hipertensi kronik + bekas seksio sesarea + primisekundi + riwayat infertil 6 tahun. Janin intra uterin tunggal hidup letak kepala H1.
Dari anamnesis didapatkan bahwa penderita saat ini hamil yang kedua kalinya, penderita pernah melahirkan 1 kali pada tahun 1994. Pada kehamilan saat ini hari pertama haid terakhir (HPHT) yaitu pada tanggal 18 Maret 2008. Saat penderita datang telah terdapat tanda – tanda inpartu kala I yaitu his yang mulai teratur, pelepasan lendir campur darah yang keluar dari jalan lahir. Pada pemeriksaan dalam didapatkan effisment 75% pembukaan 1 – 2 cm ketuban (+) presenting part (PP) letak kepala H1. Pada penderita terdapat riwayat hipertensi sejak 1 tahun yang lalu dan berobat teratur.
C. Penanganan
Berdasarkan diagnosis diatas maka diambil sikap untuk mempercepat proses kelahiran yaitu dengan seksio sesarea, seksio sesarea dianggap merupakan pengakhiran kehamilan yang terbaik mengingat umur ibu, adanya riwayat infertil 6 tahun serta terdapatnya penyulit kehamilan yaitu hipertensi kronik, dimana menurut kepustakaan bahaya yang akan muncul jika adanya kehamilan dengan hipertensi kronik adalah timbulnya preeclampsia, selain itu risiko solutio plasenta dapat meningkat secara nyata3,7. Sehingga kehamilan harus secepatnya diterminasi dengan mempercepat proses kelahiran. Selain itu dengan terdapatnya hipertensi kronis pada ibu sesuai dengan kepustakaan hal ini merupakan salah satu kontraindikasi ibu untuk mengejan.6,7
D. Komplikasi
Komplikasi – komplikasi akibat terdapatnya hipertensi kronik pada kasus ini, tidak ditemukan
E. Prognosis
Prognosis pada kasus ini pada waktu penderita masuk adalah dubia ad malam karena setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan menyeluruh didapatkan bahwa tekanan darah ibu 140/90 mmhg, ibu memiliki riwayat hipertensi sejak 1 tahun yang lalu, umur 35 tahun, primisekundi serta memiliki riwayat seksio sesarea satu kali. Hal ini menjadikan prognosis ibu tidak baik, karena ditakutkan dapat terjadi superimposed preeklampsia, solusio plasenta pada janin bahkan eklampsia.
Prognosis ibu dan janin pada waktu dilakukan seksio sesarea adalah dubia ad malam, dimana pada waktu dilakukan operasi ditakutkan terjadi keadaan yang tidak diinginkan seperti timbulnya perdarahan, komplikasi akibat obat – obatan anestesi juga komplikasi akibat tekanan darah ibu yang tinggi, yang dapat mempengaruhi janin. Prognosis pada waktu post operasi adalah dubia dimana kemungkinan untuk terjadi infeksi serta perdarahan post operasi masih dapat terjadi.
Prognosis pada hari ke 2 dan 3 post operasi menjadi dubia kearah bonam, dimana keadaan ibu mulai membaik dimana tensi mulai turun menjadi 130/90 mmhg sampai mencapai 120/70 mmhg. Keadaan bayi juga post operasi baik dimana bayi dilahirkan dengan berat 2750 gr panjang 49 cm dengan apgar skor yaitu 7 – 9. Ibu kemudian dipulangkan setelah hari kelima post operasi.

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pada kasus ini riwayat memiliki penyakit hipertensi sebelumnya menjadi salah satu faktor terjadinya risiko kehamilan pada ibu. Tidak didapati adanya komplikasi yang disebabkan oleh hipertensi kronis yang diderita oleh pasien ini. Penanganan yang diberikan adalah mempercepat proses kelahiran dengan seksio sesarea untuk menghindari risiko melahirkan pervaginam dan komplikasi yang dapat muncul akibat hipertensi kronis yang diderita ibu. Janin dapat dilahirkan dengan selamat dan ibu keadaannya semakin membaik post operasi seksio sesarea. Tidak didapati adanya komplikasi post operasi.

B. SARAN
1. Pada penderita ini memiliki riwayat hipertensi sebelumnya sehingga sebaiknya mengkonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter sebelum berencana untuk hamil.
2. Pada penderita ini dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan mengingat terdapatnya penyulit dalam kehamilan.
3. Pada penderita ini melahirkan harus di rumah sakit yang memiliki fasilitas dan tenaga medis untuk melakukan operasi secara mendadak.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget