TOXOPLASMOSIS

Sunday, October 26, 2008

Darryl Virgiawan Tanod

PENDAHULUAN

Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan. Penderita toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu gejala klinis yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktek dokter sehari-hari.

    Ibu hamil dengan janin yang dikandungnya sangat peka terhadap infeksi dan penyakit menular. Beberapa di antaranya meskipun tidak mengancam nyawa ibu, tetapi dapat menimbulkan dampak pada janin dengan akibat antara lain abortus, pertumbuhan janin terhambat, bayi mati dalam kandungan, serta cacat bawaan, adalah infeksi Toxoplasmosis.

Infeksi Toxoplasma pada trimester pertama kehamilan dapat mengenai 17% janin dengan akibat abortus, cacat bawaan dan kematian janin dalam kandungan, risiko gangguan perkembangan susunan saraf, serta retardasi mental. Infeksi saat kehamilan trimester berikutnya bisa menyebabkan hidrosefalus dan retinitis.

Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan hewan peliharaan lainnya. Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing. Untuk tertular penyakit toxoplasmosis tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing atau anjing tetapi juga bisa terjadi pada orang lainnya yang suka memakan makanan dari daging setengah matang atau sayuran lalapan yang terkontaminasi dengan agen penyebab penyakit toxoplasmosis.

Oleh karena itu penulis ingin membahas serta mengetahui lebih lanjut mengenai infeksi, akibat - akibat terutama dampaknya terhadap kehamilan

PEMBAHASAN

    Toksoplasmosis merupakan  penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Parasit ini merupakan golongan protozoa dan hidup dialam bebas serta bersifat parasit obligat. Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan pada limpa dan hati hewan pengerat (rodensia) Ctenodactyles gondii (gundi) di Sahara Afrika Utara. Toxoplasma termasuk dalam phylum Apicomplexa , kelas Sporozoa dan Subkelas Coccidia.

Parasit yang termasuk dalam phylum ini mempunyai tiga karakteristik utama yaitu bersifat obligat intraseluler, siklus hidup yang komplek baik secara seksual ataupun aseksual dan mempunyai host spesifik yang sangat tinggi.

Genus Toxoplasma hanya terdiri dari satu spesies yaitu Toxopasma gondii,  parasit ini mempunyai sifat yang tidak umum dibandingkan dengan genus lain, diantaranya dapat menginfeksi berbagai macam inang antara (tidak bersifat host spesifik). Inang antara yang mudah terinfeksi  antara lain adalah hewan berdarah panas, manusia  dan burung.

Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3-7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit.

Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10-100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot jantung dan susunan saraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran 10-12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali ekskresi akan mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut.

Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat, kecoa, tikus, dan melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin terjadi utero melalui placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi juga terjadi di laboratorium, pada peneliti yang bekerja dengan menggunakan hewan percobaan yang terinfeksi dengan toxoplasmosis atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi dengan toxoplasma gondii.

Melihat cara penularan diatas maka kemungkinan paling besar untuk terkena infeksi toxoplamosis gondii melalui makanan daging yang mengandung ookista dan yang dimasak kurang matang. Kemungkinan ke dua adalah melalui hewan peliharaan. Hal ini terbukki bahwa di negara Eropa yang banyak memelihara hewan peliharaan yang suka makan daging mentah mempunyai frekuensi toxoplasmosis lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Dapatlah dilihat pada tabel 1 dibawah ini:

    Infeksi dari toxoplasma memang masih menjadi masalah didalam dunia medis saat ini terutama dalam hubungannya terhadap kehamilan dimana toxoplasmosis menjadi salah satu penyebab didalam hal peningkatan angka kematian janin.

Kematian janin pada ibu hamil biasanya terjadi berulang dalam hal ini terjadi keguguran yang berulang pada ibu hamil, pada beberapa wanita, keguguran kadang-kadang tak hanya terjadi sekali. Keguguran ini bisa berulang berturut-turut hingga 2 kali atau lebih.

Menurut Pribakti 1998 kalau keguguran terjadi hingga 3 kali atau lebih secara berturut-turut, ini disebut keguguran berulang. Menurutnya, sebagian besar keguguran berulang ini tak diketahui. Hal ini dikarenakan keguguran terjadi sebelum kehamilan diketahui.

    Adapun penyebab keguguran berulang yang sudah diketahui adalah kelainan kromosom atau genetik. Bisa juga akibat infeksi bakteri klamidia dan virus TORCH (Toxoplasma, Rubella,Cytomegalo dan Herpes). Infeksi TORCH sudah lama dikenal dan sering dikaitkan dengan hal-hal di atas.

Besarnya pengaruh infeksi tersebut tergantung dari virulensi agennya, umur kehamilan serta imunitas ibu bersangkutan saat infeksi berlangsung seperti telah disinggung didalam pendahuluan bahwa infeksi Toxoplasma pada trimester pertama kehamilan dapat mengenai 17% janin dengan akibat abortus, cacat bawaan dan kematian janin dalam kandungan, risiko gangguan perkembangan susunan saraf, serta retardasi mental. Infeksi saat kehamilan trimester berikutnya bisa menyebabkan hidrosefalus dan retinitis. Infeksi rubella erat kaitannya dengan kejadian pertumbuhan bayi terhambat, patent ductus Botalli, stenosis pulmonalis, katarak, retinopati, mikrophthalmi, tuli dan retardasi mental. Infeksi cytomegalovirus dapat menimbulkan sindrom berat badan lahir rendah, kepala kecil, pengapuran intrakranial, khorioretinitis dan retardasi mental, hepatosplenomegali dan ikterus.

Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui adanya infeksi ini pada ibu hamil. Diagnosis infeksi TORCH dapat dilakukan dengan berbagai cara: pemeriksaan cairan amnion, menemukan kista di plasenta, isolasi dan inokulasi, polymerase-chain reaction sampai kultur jaringan. Cara yang lazim dan mudah adalah pemerikasaan serologis. Infeksi TORCH sering subklinis dan diagnosisnya hanya dapat dilakukan secara serologis mengukur kadar antibodi IgM dan IgG. Adanya IgM menyatakan bahwa infeksi masih baru atau masih aktif sedangkan adanya IgG menyatakan bahwa ibu hamil sudah mempunyai kekebalan terhadap infeksi tersebut.

Meskipun insiden toxoplasma belum mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir, kewaspadaan dan perhatian terhadap penyakit ini telah meningkat drastis. Diperkirakan sekitar 30 - 50% populasi dunia telah terinfeksi oleh toxoplasma, dan lebih dari 3000 infeksi toxoplasma terjadi pada kehamilan di Amerika Serikat, sebagian besar tanpa gejala.

Penelitian yang dilakukan Gandhahusada tahun 1995 menunjukkan bahwa angka prevalensi toxoplasmosis pada manusia berkisar antara 2-63%, 35-73% pada kucing, 75% pada anjing, 11-61 % pada kambing, 11-36% pada babi, dan kurang dari 10% pada sapi/kerbau (Chandra, 2001).

Kebanyakan infeksi pada manusia dewasa terjadi tanpa gejala, atau hanya menunjukkan gejala ringan seperti peningkatan suhu tubuh dan pembesaran kelenjar limpa. Berdasarkan dampak yang dapat diakibatkan oleh penyakit ini, infeksi kongenital merupakan hal yang patut dicermati. Sekitar 45% penularan toxoplasma terjadi melalui infeksi kongenital. Dari jumlah ini, 60% diantaranya merupakan infeksi sub-klinis, 9% mengakibatkan kematian janin dan 30% menimbulkan dampak yang cukup berat (hydrocephalus, retinochoroiditis, dan retardasi mental).

Dampak infeksi sangat jarang terlihat bila ibu mengalami infeksi pada tri semester terakhir kehamilannya, namun resiko yang lebih buruk terjadi pada infeksi yang berlangsung pada tri semester pertama kehamilan, antara lain kematian janin dan malformasi bayi. Gejala yang lebih jelas terlihat setelah kelahiran, dapat pula muncul beberapa minggu, beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelah kelahiran (beberapa gejala klinis bisa jadi baru nampak pada masa pubertas sebagai akibat dari infeksi kongenital). Abnormalitas sistem saraf (retardasi mental) dan penglihatan (kebutaan), hydrocephalus, gangguan pendengaran, demam, jaundice, dengan berbagai komplikasinya, merupakan manifestasi klinis yang biasa dialami oleh pasien toxoplasma. Gejala dan tanda-tanda lain yang mungkin terjadi adalah pembesaran maupun pengecilan kepala, ruam, memar dan pendarahan bawah kulit, anemia serta pembesaran liver dan limpa.

Individu dengan sistem immune yang lemah (pada penderita AIDS, kanker atau pasien transplantasi organ) merupakan golongan yang mempunyai beresiko tinggi menderita infeksi toxoplasma. Parasit dormant yang semula inaktif dapat pecah dan secara tiba-tiba mengganas. Tak heran pada pasien dengan kondisi ini, terutama AIDS, angka relapse dan mortalitas akibat toxoplasma tergolong tinggi.

    Selain infeksi pada ibu hamil dan keguguran yang berulang hal yang juga menjadi masalah dalam infeksi toxoplasma adalah terjadinya infeksi toxoplasma kongenital secara umum telah disetujui sejak dulu bahwa transmisi toksoplasmosis kongenital muncul hanya ketika infeksi Toxoplasma gondii didapat selama masa gestasi. Konklusi ini diambil berdasarkan data riset klinis dan epidemiologi. Bukti yang mendukung konsep tersebut di antaranya observasi yang dilakukan oleh Feldman dan Miller (204 kasus)5. Sabin dkk. (216 ibu melalui 380 kehamilan)6 dan Desmonts (Studi prospektif terhadap 400 kasus)1. Desmonts mengumpulkan data dari observasi-observasi ini dan menganalisa kehamilan pada lebih dari 800 wanita yang melahirkan anak yang terinfeksi secara kongenital.

Ada suatu korelasi positif yang sangat bermakna antara isolasi toksoplasma dari jaringan plasenta dan infeksi pada neonatus. Sebagai suatu standar, isolasi positif menandakan adanya infeksi dan isolasi negatif menandakan tidak adanya infeksi pada neonatus. Korelasi ini merupakan hasil penelitian dari otopsi neonatus dengan toksoplasmosis kongenital dan mengindikasikan bahwa infeksi tersebut didapat oleh fetus melalui uterus via pembuluh darah. Hal ini membentuk konsep bahwa plasenta adalah suatu organ yang sangat penting dalam menghubungkan infeksi maternal dan fetus dimana organisme tersebut mencapai plasenta selama periode parasitemia pada ibu yang terinfeksi1.

Frekuensi dari infeksi toksoplasmosis kongenital diteliti oleh Desmonts dan Couvreur. Sebanyak 542 wanita yang terjangkit infeksi toksoplasma selama kehamilan dimana anak-anak yang terlahir dari ibu yang terjangkit infeksi ini diklasifikasikan menjadi 5 kelompok:

  1. Tidak ada infeksi kongenital (jika tes pada bayi menunjukkan titer negatif).
  2. Infeksi kongenital subklinis (jika titer positif, tetapi asimtomatis).
  3. Infeksi toksoplasmosis kongenital ringan (jika bayi tampaknya normal dan berkembang secara normal juga pada penelitian selanjutnya tidak dijumpai adanya retardasi mental maupun kerusakan neurologik, akan tetapi pada pemeriksaan selanjutnya dijumpai adanya luka parut pada retina/pemeriksaan pada fundus). Atau, dalam satu kasus dijumpai adanya kalsifikasi intrakranial pada pemeriksaan X-ray.
  4. Infeksi toksoplasmosis kongenital berat, tetapi masih lahir (jika didapatkan korioretinitis dan kalsifikasi intrakranial pada bayi).
  5. Meninggal segera setelah dilahirkan.

Risiko infeksi toksoplasma terhadap fetus sangat berhubungan dengan waktu/kapan infeksi maternalnya muncul. Jika infeksi toksoplasma terjadi pada bulan-bulan terakhir dari kehamilan, umumnya parasit tersebut akan ditularkan ke fetus, tetapi infeksi yang terjadi umumnya subklinis pada saat kelahiran. Jika ibu hamil terjangkit lebih awal, sebagai contoh, pada bulan ketiga kehamilan, transmisi ke fetus umumnya lebih jarang. di lain pihak, bila terjadi umumnya menghasilkan penyakit yang berat.

Jika kita melihat bagaimana infeksi dari toxoplasma ini begitu membahayakan serta berdampak sangat buruk terutama bagi janin dan ibu hamil tentunya pencegahan serta diagnosis yang cepat dan tepat menjadi kunci utama didalam menangani masalah ini. Pencegahan terhadap infeksi toxoplasma sangat penting untuk dilakukan terutama untuk mencegah serta mengurangi infeksi dari toxoplasma terhadap ibu – ibu hamil.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari jangkitan dari penyakit ini, antara lain dengan melakukan langkah-langkah pencegahan berikut ini :

1.   Menghindari makan makanan mentah atau setengah matang, terutama daging babi, sapi dan kambing. Pemanasan yang ideal untuk bahan makanan ini adalah 70oC (158oF) selama 15-30 menit. Selain dengan pemanasan, perlakuan lain tidak akan menghilangkan kista toxoplasma.

2.   Hindarilah kontak langsung dengan tanah yang merupakan sarana yang paling potensial mengandung ookista, khususnya bila di sekitar kediaman Anda terdapat kucing. Daya tahan ookista cukup lama pada tanah yang lembab dan terhindar dari sinar matahari langsung. Bila Anda tidak dapat menghindari kontak dengan tanah, gunakanlah sarung tangan dan cucilah tangan Anda setelah kontak dengan sabun dan air.

3.   Biasakanlah mencuci sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi.

4.   Pola hidup higienis akan lebih menjamin kesehatan. Bagi Anda yang biasa makan dengan menggunakan tangan, cucilah tangan Anda dengan sabun sebelum makan.

5.   Mencuci pisau dan perkakas rumah tangga dapur lain setelah digunakan untuk memotong atau menampung daging mentah, sayuran atau buah-buahan yang belum dicuci dengan sabun dan air panas, untuk menghindari kontaminasi silang antara benda atau bahan mentah dengan bahan makanan yang telah matang.

6. Untuk wanita hamil, usahakan untuk menghindari kontak dengan kucing, apalagi membuang kotorannya. Pemeriksaan darah saat merencanakan kehamilan sangat penting, dan idealnya diulang pada tri semester pertama dan terakhir kehamilan. Pemeriksaan darah seperti ini dapat dilakukan di banyak laboratorium kesehatan di negara kita, sayangnya biayanya cukup mahal.

Diagnosis dari toxoplasmosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan serologis dan menemukan parasit dalam jaringan tubuh penderita. Seperti telah diuraikan di atas, gejala klinis sering kali meragukan dan menemukan parasit dalam jaringan tubuh penderita bukanlah suatu hal yang mudah. Maka pemeriksaan secara serologis terhadap antibodi penderita toxoplasmosis merupakan alat bantu diagnosis yang mudah dan baik.

Dasar pemeriksaan serologis ialah antigen toxoplasmosis bereaksi dengan antibodi spesifik yang terdapat dalam serum darah penderita. Beberapa jenis pemeriksaan serologis yang umum dipakai ialah: Dye test Sabin Feldman, Complement Fixation Test (CFT), reaksi Fluoresensi antibodi, Indirect Hemagglutination Test dan enzym linked immunosorhen assay (Elisa). Dye test Sabin Feldman merupakan pemeriksaan yang pertama kali ditemukan. Dasar test ini yaitu toxoplasma gondii mudah diwarnai dengan metilen blue. Tetapi bila dicampur dengan serum kebal, maka parasit tidak dapat mengambil warna lagi karena anti bodi toxoplasma yang ada dalam serum tersebut akan melisis parasit ini. Complement fixaton test (CFf) berdasarkan reaksi antigen antibodi yang akan mengikat komplement sehingga pada penambahan sel darah merah yang dilapisi anti bodi tidak terjadi hemolisis. Reaksi fluoresensi anti bodi memakai sediaan yang mengandung toxoplasma yang telah dimatikan. Anti bodi yang ada dalam serum akan terikat pada parasit. Setelah ditambah antiglobulin manusia yang berlabel fluoresens. Inderect hemaglutination test mempergunakan antigen yang diletakkan pada sel-sel darah merah, bila dicampur dengan serum kebal menimbulkan aglutinasis. Elisa mempergunakan antigen toxoplasmosis yang diletakkan pada penyangga padat. Mula-mula diinkubasi dengan reum penderita, kemudian dengan antibodi berlabel enzim. Kadar anti bodi dalam serum penderita sebanding dengan intertitas warna yang timbul setelah ikatan antigen anti bodi dicampur dengan substat.

Diagnosis terhadap toxoplasmosis secara mudah dapat ditegakkan dengan menemukan anti bodi terhadap penderita terhadap serum darah penderita Anti toxoplasma gondii kelas IgM timbul segera setelah infeksi, dan baru mencapai puncaknya pada minggu keempat kemudian menurun secara lambat dan tidak terdeteksi lagi setelah empat bulan. Sedang anti toxoplasma kelas IgG dapat dideteksi setelah 3 atan 4 bulan infeksi dan kadarnya menetap sampai bertahun-tahun. Dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM, maka kita dapat mengetahui apakah seseorang dalam efeksi akut, rentan atau kebal tehadap toxoplasmosis. Selain seperti cara di atas bisa juga dilakukan pemeriksaan histopatologis jaringan otak, sum-sum tulang belakang, kelenjar limpe, cairan otak merupakan diagnosis pasti tetapi cara ini sulit dilakukan.

Selain diagnosis terhadap penderita dalam hal ini ibu hamil, diagnosis terhadap bayi pun sangat penting dalam hal ini hubungannya dengan infeksi toxoplasma kongenital dimana diagnosis menjadi sangat penting unruk pengobatan selanjutnya.

Di Indonesia sering dijumpai bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongnital akibat toxoplasma, dimana janin mulai membentuk zat anti pada akhir trimester pertama, yang terdiri dari IgM zat anti ini biasanya menghilang setelah 1-3 bulan.

Zat anti IgM pada bayi didapat dari ibunya melalui plasenta Konsentrasi IgG pada neonatus berkurang, dan akan naik lagi bila bayi dapat mebuat IgG sendiri pada umur lebih kurang 3 bulan. Serodiagnosis infeksi kongenital berdasarkan kenaikan jumlah zat anti IgG spesifik mau deteksi zat anti IgM spesifik. Tujuan penulisan makalah ini untuk mengingat kembali kepentingan pemeriksaan zat anti IgG pada paired sera untuk diagnosis toxoplasmosis kongenital bila zat anti IgG tidak ditemukan.

Pada bulan Januari 1986 Sampai Juni 1988 staf bagian parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yaitu Srisasi Ganda Husada telah melakukan penelitian tentang toxoplasmosis yaitu telah memeriksa 99 bayi berumur 1 hari sampai 6 bulan yang tersangka menderita toxoplasmosis kongenital. Bayi-bayi ini dikirim oleh RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, rumah sakit lain yang ada di Jakarta dan dari dokter-dokter praktek pribadi. Kelainan klinik pada bayi-bayi yang tersangka toxoplasmosis kongenital ini adalah merupakan trias klasik yaitu Hidrocephalus, korioretinitis, dan perkapuran otak. Ada bayi yang hanya menunjukkan suatu kelainan seperti hepatosplenomegali katarak, mikrosefalus, kejang, dan ada yang menunjukkan lebih dari satu kelainan di atas.

Dari tiap bayi diambil darah vena atan darah tali pusat serum dipisahkan dari gumpalan darah dan disimpan dalam frezer pada suhu 20C sampai diperiksa 2m anti IgM ditentukan dengan Elisa dengan menggunakan test kit Eti-Toxox-M reverse dari sorin Biomedica. Dalam test kit ini tersedia lempeng-lempeng plastik dengan sumur-sumur ini diisi dengan serum kontrol dan serum pendertia, kemudian diinkubasi selama 1 jam pada suhu 370C. Bila dalam serum tersebut terdapat IgM spesifik, maka IgM ini akan diikat dan menempel pada dasar sumur.

Cairan dalam sumur-sumur dibuang dan lempeng-lempeng dicuci. Kemudian sumur-sumur diisi dengan toxoplasmosis entigen yang dibuat dari toxoplasma gondii RH Strain antigen ini dicanlpur dengan Enzyme tracer yang mengandung IgG terhadap toxoplasma gondii (dari tikus) yang dikonjugasi pada horse radish peroxydase. Setelah diinkubasi kembali selama 1 jam pada 370C, maka toxoplasma gondii akan terikat pada IgM spesifik dan enzim tracer yang menempel pada IgG terhadap toxoplasma gondii. Dengan demikian antivitas enzim ini proposional dengan konsentrasi IgM spesifik dalam serum penderita atau kontrol. Aktivitas enzim diukur dengan menambahkan Tetra Methilbenzidene chromogen/substrat yang tidak warna. Lempeng-lempeng diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Enzym dicampur dengan chromogen substrat menimbulkan warna kuning yang diukur dengan spektrofotometer dengan filter 45Omm setelah reaksi dihentikan dengan laluran H2SO4In. Yang dianggap positif adalah nilai besar dari pada Cut off Control.

Zat anti IgG pada bayi yang datang sebelum Juni 1987 di tentukan dengan mikroteknik tes hemagtutinasi tidak langsung (IHA) menurut Milgram dengan menggunakan antigen dari laboratorium NAMRU 2 yang dibuat dari RH strain toxoplasma gondii sebelum diperiksa serum diinativasi pada suhu 56°C selama setengah jam,. Titer dimana masih tampak aglutinasi. Mulai Juni 1987 telah tersedia Toxo Elisa Test Kit dari MA Bio product dan untuk penentuan zat anti IgG lalu digunakan Test Kit tersebut. Dalam Test Kit tersebut digunakan lempeng-lempeng plastik dengan sumur-sumur yang telah dilapisi dengan antigen toxoplasma gondii.

Sumur-sumur ini diisi dengan senun kontrol dan serum penderita. Kemudian diinkubasi 45 menit pada suhu kamar. Bila serum yang diperiksa mengandung zat anti IgG spesifik maka zat anti ini terikat pada antigen. Setelah dicuci sumur-sumur diisi dengan antihuman IgG yang dikonjugasi pada enzim alkalin fosfatase. Lempeng-lempeng diinkubasi selama 45 menit pada subu kamar. Konjugat ini akan terikat pada IgG spesifik (bila) ada pada dasar sumur diisi dengan substat P-nitro fenifostat. Setelah diinkubasi kembali selama 45 menit subtract akan dihirrolisa oleh enzim yang menimbulkan warna kuning. Setelah reaksi dihentikan dengan larutan Na OH I N perubahan warna dibaca dengan spektrofotometer dengan filter 405 mm. Intentitas perubahan warna sejajar dengan jumlah IgG spesifik. Yang dianggap positif adalah nilai yang sama dengan atau lebih besar dapat pada 0,21.

Hasil penelitiannya yaitu dari 99 terdapat 79 bayi yang tersangka toxoplasmosis kongenital. Dapat dilihat pada table 2 di bawah ini :

Tabel 2 :Hasil Pemeriksaan IgM pada 79 Bayi Tersangka Toxoplasmosis Kongenital.

Hasil Yang Didapat

Jumlah

Persentase (%)

Positif  

8  

10,1  

Negatif  

71  

89,9  

Jumlah

79

100


 

Pada Tabel 2 di atas dapat dilihat, bahwa IgM spesifik ditemukan pada 8 bayi (10,1) yaitu 4 bayi berumur 2 hari sampai 5 bulan yang secara berturut-turut menunjukkan kelainan kongenital multipel dan hepatospenomegali, anemia gravis dan demam, mikro sephalus, khorioretinitis dan katarak. Pemeriksaan IgG dengan Elisa menunjukkan nilai positif tinggi pada keempat bayi tersebut yaitu 0,73-0,82-1,22-0,97.

Pemeriksaan IgG pada 4 bayi lainnya dilakukan dengan test IHA dengan hasil titer 1:1024 (t.) pada bayi berumur 6 bulan dengan kelainan kongenital multipel, titer 1:64 pada bayi berumur 6 bulan.

Tabel 3: Hasil Pemeriksaan IsM dan IgG Pada 8 bayi dengan Diagnosis Serologik Toxoplasmosis Kongenital.

Umur

IgM+

IgG

Gejala

2 hari  

0,62  

0,73  

Kelainan kongenital multipel + hepatosple nomegali  

2 bulan  

0,36  

0,82  

H. Spenomegali + anemia  

3 bulan  

0,67  

1,22  

Mikrosefalus

5 bulan  

0,28  

0,97  

Khorioretinitis + Katarak  

6 bulan  

0,28  

-  

Kelainan kongenital  

4,5 bulan  

0,28  

64  

Atropi orak kiri  

5,6 bulan  

0,36  

32  

Kelainan mata  

6 hari  

0,33  

8  

Hiperbilirubinemia  


 

Dari tabel di atas dapat dilihat diagnosis toxoplasmosis kongenital pada 8 bayi dengan deteksi IgM + dan IgG di dapat basil yang berbeda antara pemeriksaan dengan IgM dan IgG. Menurut Remington dkk, (1980) IgM menghilang 3-4 bulan setelah muncul dalam serum, tetapi kadang-kadang dapat ditemukan lebih lama. Desmonts dkk, 1975 seperti dikutip Vejtorp (1980) menemukan zat antigen IgM hanya pada 25% bayi dengan toxoplasmosis kongenital.

Sampai saat ini pengobatan yang terbaik adalah kombinasi pyrimethamine dengan trisulfapyrimidine. Kombinasi ke dua obat ini secara sinergis akan menghambat siklus p-amino asam benzoat dan siklus asam foist. Dosis yang dianjurkan untuk pyrimethamine ialah 25-50 mg per hari selama sebulan dan trisulfapyrimidine dengan dosis 2.000-6.000 mg sehari selama sebulan.

Karena efek samping obat tadi ialah leukopenia dan trombositopenia, maka dianjurkan untuk menambahkan asam folat dan yeast selama pengobatan. Trimetoprimn juga temyata efektif untuk pengobatan toxoplasmosis tetapi bila dibandingkan dengan kombinasi antara pyrimethamine dan trisulfapyrimidine, ternyata trimetoprim masih kalah efektifitasnya.

Spiramycin merupakan obat pilihan lain walaupun kurang efektif tetapi efek sampingnya kurang bila dibandingkan dengan obat-obat sebelumnya. Dosis spiramycin yang dianjurkan ialah 2-4 gram sehari yang di bagi dalam 2 atau 4 kali pemberian. Beberapa peneliti menganjurkan pengobatan wanita hamil trimester pertama dengan spiramycin 2-3 gram sehari selama seminggu atau 3 minggu kemudian disusul 2 minggu tanpa obat. Demikian berselang seling sampai sembuh. Pengobatan juga ditujukan pada penderita dengan gejala klinis jelas dan terhadap bayi yang lahir dari ibu penderita toxoplasmosis

Diatas telah dibahas mengenai cara diagnosis infeksi TORCH serta diagnosis infeksi toxoplasma khusunya. Selain diagnosis dan pencegahan terhadap infeksi toxoplasma, masalah sosioekonomi serta minimnya informasi mengenai hal ini menjadi salah satu penyebab infeksi toxoplasma terus meningkat terutama pada ibu – ibu hamil.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyakit toxoplasmosis merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di berbagai negara juga di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali luput dari pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya memberikan beban berat bagi masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis secara laboratoris cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM terhadap toxoplasmagondii akan dapat diketahui status penyakit penderita.

B. Saran

  • Perlunya informasi yang memadai mengenai infeksi toxoplasma terutama bagi para wanita hamil terutama tentang pencegahan infeksi ini.
  • Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama akan kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.


 


 

    

    

READ MORE - TOXOPLASMOSIS

MIOPIA DERAJAT SEDANG

Tuesday, October 21, 2008

Darryl Virgiawan Tanod


 

PENDAHULUAN


  1. Definisi

    Miopia merupakan suatu keadaan refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat (tanpa akomodasi), dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa akomodasi. Hal ini dapat disebabkan oleh sistem optik yang terlalu kuat, bola mata yang terlalu panjang1,2.


     

  2. Klasifikasi
  • Berdasarkan derajat beratnya miopia dibagi atas3,4 :
  1. Miopia ringan (1 – 3 dioptri)
  2. Miopia sedang (3 – 6 dioptri)
  3. Miopia tinggi (> 6 dioptri)
  • Secara klinis, miopia dapat dibedakan atas3,4 :
  1. Miopia simpleks, miopia stasioner, miopia fisiologik

Timbul pada usia muda kemudian berhenti, dapat juga naik sedikit pada waktu atau segera setelah pubertas, atau dapat naik sedikit sampai umur 20 tahun. Tidak disertai kelainan

patologik fundus namun dapat disertai kelainan fundus yang ringan. Berat kelainan refraktifnya kurang dari -5 D atau -6 D.

  1. Miopia progresif

Dapat ditemukan pada semua umur dan mulai sejak lahir, dimana kelainan mencapai puncak pada waktu remaja, bertambah terus sampai umur 25 tahun atau lebih. Kelainan

refraktifnya melebihi 6 D.

  1. Miopia patologik, miopia degeneratif, miopia maligna

Miopia progresif yang lebih ekstrim. Terjadi peningkatan beratnya miopia dalam waktu yang relatif pendek. Disertai kelainan degenerasi di koroid dan bagian lain dari mata. Dalam hal

ini miopia dapat dianggap sebagai penyakit.

  • Berdasarkan penyebabnya, miopia dapat dibedakan atas3,5 :
  1. Miopia aksialis

Jarak sumbu anterior – posterior terlalu panjang. Jarak normal adalah 23mm, sedangkan pada miopia 3D = 24mm, 10D = 27mm. Dapat merupakan kelainan kongenital (makroftalmus),

akuisita (membaca terlalu dekat, muka yang lebar), juga ada faktor herediter.

  1. Miopia pembiasan

Penyebabnya dapat terletak pada:

  1. Kornea : kongenital (keratokonus, keratoglobus) dan akuisita (keratek-tasia/kornea menonjol ke depan).
  2. Lensa : luksasi/subluksasi lensa, atau pada katarak imatur dimana lensa menjadi cembung akibat masuknya humor akuos.
  3. Cairan mata : kadar gula pada humor akuos meninggi sehingga daya biasnya meninggi (pada penderita diabetes mellitus).


     

  1. Gejala Klinik

    Hal yang biasa dikeluhkan pada miopia adalah penglihatan jauh yang berkurang, sakit kepala, mata berair, rasa lekas lelah dan pusing yang hilang timbul terutama bila membaca atau menonton televisi terlalu lama. Seseorang dengan miopia mempunyai kebiasaan mengerutkan matanya untuk mendapatkan efek lubang kecil (untuk mengurangi cahaya yang masuk sehingga ketajaman penglihatannya diperbaiki)6,7.


     

  2. Penanganan

    Penanganan pada penderita miopia adalah dengan pemakaian kacamata (lensa sferis negatif terkecil yang memberikan visus maksimal), lensa kontak, pembedahan (keratotomy radial) dan LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomiolisis).
    Komplikasi yang dapat terjadi adalah strabismus divergen, ablasi retina dan perdarahan badan kaca8,9.

    Untuk mencegah agar miopia tidak bertambah, kesehatan badan, dan mata harus dijaga. Usahakan untuk cukup istirahat, mengurangi pekerjaan dekat, banyak bekerja di luar. Bila membaca jangan terus menerus dan usahakan dalam posisi tegak, jangan membungkuk di atas buku. Kacamata harus terus dipakai. Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang. Untuk miopia tinggi, hindari olah raga seperti sepak bola, tinju, angkat berat dan yang sejenisnya7,8.


     

  3. Prognosis

    Prognosis pada miopia adalah baik dengan koreksi yang baik dan pemeliharaan mata yang baik. Miopia progresif yang disertai penyulit yang gawat, kadang-kadang membutuhkan pengurangan bahkan penghentian dan pekerjaan dekat. Miopia maligna, prognosisnya buruk.


     

    LAPORAN KASUS


     

    1. Identitas Penderita.

      Nama            :    Ny. ML

      Umur            :    29 tahun

      Agama            :    Kristen Protestan

      Pendidikan        :    SMA

      Suku/bangsa        :    Sanger/Indonesia

      Pekerjaan        :    Ibu rumah tangga

      Alamat        :    Kel. Kombos Timur, lingk III. Manado

      Tanggal Pemeriksaan    :    29 September 2008


       

    2. Anamnesa.
  • Keluhan        

Kedua mata terasa kabur.

  • Riwayat penyakit sekarang

    Mata terasa kabur dialami pasien sejak ± 5 tahun yang lalu. Mata kabur timbul secara perlahan, awalnya mata kabur dirasakan tidak terlalu mengganggu yang kemudian lama – kelamaan dirasakan pasien mengganggu kegiatan hariannya seperti membaca. Pasien juga mengeluhkan mata terasa kabur jika membaca agak jauh tetapi lebih jelas waktu baca dekat. Pasien pernah membeli kacamata sendiri ± 2 tahun yang lalu, setelah memakai kacamata pasien merasa lebih baik dan keluhan mata kabur menghilang. Kacamata dipakai pasien hanya ± 2 bulan. Selama tidak memakai kacamata, mata pasien dirasakan kembali kabur. Pasien kemudian datang ke poli mata RSU. Prof. R. D. Kandou untuk memeriksakan diri.


     

  1. Pemeriksaan Fisik.
  • Status Generalis

        Keadaan umum    :     Baik     

        Kesadaran         :     Kompos mentis

        Tanda Vital        :    T : 120/80 mmHg, N: 86 kali/menit, R: 22 kali/menit

S : 36,7 0C.

  • Kepala         :    Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
  • Leher        :     Pembesaran kelenjar getah bening (-)
  • Thoraks        :     Dalam batas normal
  • Abdomen        :     Dalam batas normal
  • Ekstremitas    :     superior dan inferior tidak ada kelainan


     

  1. Status Oftalmikus

    Pemeriksaan Subjektif

    VOD            :    6/60 dikoreksi dengan S(-) 4,50 → 6/6

    VOS            :    4/60 dikoreksi dengan S(-) 6,00 → 6/6

    Jarak kedua pupil    :    58 mm

    Pemeriksaan Objektif

    Dari inspeksi ODS secara umum, posisi kedua bola mata normal, simetris di tengah, tidak ada benjolan, pergerakan bola mata normal. Supersilia, palpebra dan aparatus lakrimalis tidak ada kelainan, konjungtiva bulbi jernih, benjolan tidak ada. Kornea jernih, COA cukup dalam pupil bulat isokor, refleks cahaya positif normal. Palpasi ODS tidak ada nyeri tekan dan benjolan. Pemeriksaan dengan oftalmoskop pada ODS didapatkan refleks fundus (+) uniform, batas tegas, warna vital, makula dan retina dalam batas normal.


     

  2. Diagnosis

    Miopia Okuli dekstra et sinistra derajat sedang


     

  3. Terapi
  • Kacamata Monofokus OD : S(-) 4,50; OS : S(-) 6,00
  • Roborantia


     

  1. Prognosis

    Dubia


     

  2. Anjuran
  • Menjaga kesehatan badan dan mata
  • Bila membaca jangan terus-menerus dan usahakan dalam posisi tegak, jangan membungkuk di atas buku.
  • Kacamata harus terus dipakai.
  • Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang

        

  1. Resume

Seorang penderita perempuan umur 29 tahun, datang berobat ke poliklinik mata RSU Prof. R. D. Kandou pada tanggal 29 September 2008 dengan keluhan kedua mata terasa kabur. Mata kabur dialami pasien ± 5 tahun yang lalu, keluhan terutama dialami saat melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau membaca dalam jarak dekat.

Status Oftalmikus

VOD        :    6/60 dikoreksi dengan S(-) 4,50 → 6/6

VOS        :    4/60 dikoreksi dengan S(-) 6,00 → 6/6

Jarak kedua pupil    :    58 mm

Diagnosis

Miopia Okuli dekstra et sinistra derajat sedang

Terapi

  • Kacamata Monofokus OD : S(-) 4,50; OS : S(-) 6,00
  • Roborantia

Prognosis

Dubia


 

DISKUSI

Diagnosis miopia ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Dari anamnesis didapatkan adanya keluhan berupa penglihatan kabur terutama saat melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau membaca dalam jarak dekat. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat, dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa akomodasi.

Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan visus okulus dekstra 6/60 sedangkan visus okulus sinistra 4/60. Mata kanan dikoreksi dengan lensa sferis (–) 4,50 D, sedangkan mata kiri dikoreksi dengan lensa sferis (–) 6,00 D. Berdasarkan kepustakaan, miopia dapat dikoreksi dengan pemakaian lensa sferis negatif.

Karena orang miopia jarang melakukan akomodasi, jarang terjadi miosis, sehingga pupil menjadi midriasis. Otot-otot siliaris menjadi atrofi menyebabkan iris letaknya lebih ke dalam, sehingga bilik mata depan menjadi lebih dalam.
Pada pasien ini dengan inspeksi didapatkan bilik mata depan yang cukup dalam.

Komplikasi terburuk dari miopa adalah terjadinya ablasio retina, dimana sumbu antero posterior bola mata yang terlalu panjang dapat menyebabkan terjadinya penipisan sklera (skleraektasi) sehingga dapat terjadi ablasi dari retina. Selain itu komplikasi lain yang dapat terjadi adalah terjadinya strabismus divergen.

Pada miopia juga dapat terjadi perbedaan ukuran lensa negatif antara okuli dekstra dan sinistra dimana keadaan ini disebut anisometropia, dimana jika terdapat perbedaan > 3 D antara okuli dekstra dan sinistra jika terus berlanjut ini dapat menyebabkan anisokonia, dimana bayangan yang muncul akan tidak sama besar. Untuk mengetahuinya dapat digunakan Fordo test.

Pasien ini diterapi dengan kacamata mengunakan lensa sferis negatif. Ukuran lensa yang digunakan adalah yang terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan koreksi. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada penderita miopia diberikan lensa sferis negatif yang terkecil yang memberikan visus maksimal agar penderita dapat melihat dengan baik tanpa melakukan akomodasi.
Roborantia diberikan sebagai tambahan nutrisi mata.


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

  1. Wijana N. Refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata cetakan ke-6. Jakarta, 1993


     

  2. Agarwal LP. Subjective Examination. Principle Of Optics and Refraction 2nd ed. New Delhi : CBS Publihers and distributors, 1979 : 86 – 120


 

  1. American Academy of Ophthalmology. Practical Ophthalmology 4th ed. San Fransisco, USA, 1996 : 77 – 85


 

  1. Sidarta I, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata cetakan ke-2. Jakarta, 2000


 

  1. Sidarta I. Kelainan Refraksi. Dalam : Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta, 1991


 

  1. Sidarta I, dkk. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum edisi 2. Jakarta, 2002


 

  1. BJO Online. Myopia [cited 2006 January 11]. Available from : http://www.bmjjournals.com/cgi/reprintform.


 

  1. New scientist Breaking News. Lifestyle causes myopia. [cited 2006 January 12]. Available from : http://www.journals.com/cgi/reprintform


 

  1. Ilyas S. Tajam penglihatan dan kelainan refraksi. Dalam : Penuntun Ilmu Penyakit Mata. FKUI. 1988 : 16.


     


 

READ MORE - MIOPIA DERAJAT SEDANG

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
 
 

Popular Blogs

Loading...
 
Twitter Bird Gadget