MEKANISME PROSES DASAR GINJAL

Tuesday, April 22, 2008



Terdapat 3 proses dasar Ginjal, yaitu :
  1. Filtrasi
  2. Reabsorpsi
  3. Sekresi
Ketiga proses dasar diatas berperan didalam pembentukan urin.
1. Filtrasi
Filtrasi di dalam ginjal terjadi didalam Glomerulus, sehingga disebut Filtrasi Glomerulus.
Filtrasi Glomerulus merupakan langkah pertama didalam pembentukan Urin pada manusia. Membran Glomerulus seratus kali lipat lebih permeabel daripada kapiler-kapiler di tempat lain. Tekanan darah kapiler glomerulus adalah gaya pendorong utama yang berperan untuk menginduksi filtrasi glomerulus.
Mekanisme kerja Filtrasi Glomerulus :
Pada saat darah mengalir melalui glomerulus, terjadi filtrasi plasma bebas-protein menembus kapiler glomerulus kedalam kapsul Bowman. Cairan yang difiltrasi dari glomerulus ke dalam kapsul Bowman harus melewati 3 lapisan yang membentuk membran glomerulus :
  1. Dinding kapiler Glomerulus
  2. Lapisan gelatinosa aseluler = Membran basal ( basement membrane ).
  3. Lapisan dalam kapsul Bowman.
Secara kolektif, keti-3 lapisan ini berfungsi sebagai saringan molekul halus yang menahan sel darah merah dan protein plasma, tetapi melewatkan H2O dan zat terlarut lain yg memiliki ukuran molekul lebih kecil. Melalui Filtrasi Glomerulus, setiap hari terbentuk rata-rata 180 liter ( sekitar 47,5 galon ) filtrat glomerulus. Pada saat filtrat mengalir melalui tubulus, zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh dikembalikan ke plasma kapiler peritubulus. Perpindahan bahan bahan yang bersifat selektif dari bagian dalam tubulus ( lumen tubulus ) ke dalam darah ini disebut reabsorpsi tubulus.

2. Reabsorpsi
Reabsorpsi ini terjadi di tubulus, reabsorpsi tubulus bersifat sangat selektif, bervariasi, dan sangat luar biasa. Zat-zat yang direabsorpsi tidak keluar dari tubuh melalui urin, tetapi diangkut oleh kapiler peritubulus ke sistem vena dan kemudian ke jantung untuk kembali diedarkan. Dari 180 liter plasma yang difiltrasi setiap hari, rata-rata 178,5 liter diserap kembali dengan 1,5 liter sisanya terus mengalir ke pelvis ginjal untuk dikeluarkan sebagai urin. Semua konstituen plasma, kecuali protein, secara nondiskriminatif difiltrasi bersama-sama melintasi kapiler glomerulus.
Mekanisme Reabsorpsi Tubulus :
Reabsorpsi tubulus melibatkan transportasi Transepitel.
Ada 5 langkah yang terjadi didalam reabsorpsi tubulus transepitel, yaitu :
1. Bahan-bahan yang akan direabsorpsi kecuali H2O harus meninggalkan cairan tubulus dengan melintasi membran luminal sel tubulus.
2. Bahan tersebut harus berjalan melewati sitosol dari satu sisi sel tubulus ke sisi lainnya.
3. Bahan tersebut harus menyeberangi membran basolateral sel tubulus untuk masuk ke cairan
interstisium.
4. Bahan tersebut harus berdifusi melintasi cairan intertisium.
5. Bahan tersebut harus menembus dinding kapiler untuk masuk ke plasma darah.
Terdapat 2 jenis reabsorpsi tubulus yaitu :
  1. Reabsorpsi Aktif : memerlukan energi.
  2. Reabsorpsi Pasif : Tidak memerlukan energi.
Secara umum, zat-zat yang perlu disimpan oleh tubuh akan secara selektif direabsorpsi, sedangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan dan perlu dieliminasi akan tetap berada didalam urin. 


3. Sekresi.
Sekresi tubulus, mengacu pada perpindahan selektif zat-zat dari darah kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus, merupakan rute kedua bagi zat dari darah untuk masuk kedalam tubulus ginjal. Proses sekresi terpenting adalah sekresi H+, K+, dan ion-ion organik. Sekresi tubulus dapat dipandang sebagai mekanisme tambahan yang meningkatkan eliminasi zat-zat tersebut dari tubuh. Semua zat yang masuk ke cairan tubulus, baik melalui fitrasi glomerulus maupun sekresi tubulus dan tidak direabsorpsi akan dieliminasi dalam urin
Mekanisme Kerja sekresi Tubulus :
Sekresi tubulus melibatkan transportasi transepitel seperti yang dilakukan reabsorpsi tubulus, tetapi langkah-langkahnya berlawanan arah. Seperti reabsorpsi, sekresi tubulus dapat aktif atau pasif. Bahan yang paling penting yang disekresikan oleh tubulus adalah ion hidrogen (H+), ion kalium (K+), serta anion dan kation organik, yang banyak diantaranya adalah senyawa senyawa yang asing bagi tubuh.
Ø Sekresi Ion Hidrogen.
Sekresi hidrogen ginjal sangatlah penting dalam pengaturan keseimbangan asam-basa tubuh.
Ø Sekresi ion Kalium
Ion kalium adalah contoh zat yang secara selektif berpindah dengan arah berlawanan di berbagai
bagian tubulus; zat ini secara aktif direabsorpsi di tubulusproksimal dan secara aktif disekresi di tubulus distal dan pengumpul.
Ø Sekresi anion dan kation Organik
Tubulus proksimal mengandung dua jenis pembawa sekretorik yang terpisah, satu untuk sekresi anion organik dan suatu sistem terpisah untuk sekresi kation organik.
Pemeriksaan fisik Urine
Ciri-Ciri Urine normal :
1. “Volume” urine rata-rata : 1-1,5 liter setiap hari; tergantung luas permukaan tubuh dan intake cairan.
2. “Warna” kuning bening oleh adanya urokhrom. Secara normal warna dapat berubah, tergantung jenis bahan /obat yang dimakan. banyak carotein, warna kuning banyak melanin, warna coklat kehitam-hitaman. banyak darah, warna merah tua ( hematuria ) banyak nanah, warna keruh ( piuria ) adanya protein, warna keruh ( proteinuri )
3. “Bau”
Urine baru, bau khas sebab adanya asam-asam yg mudah menguap Urine lama, bau tajam sebab adanya NH3 dari pemecahan ureum dalam urine Bau busuk, adanya nanah dan kuman-kuman Bau manis, adanya asetan
4. “Berat jenis Urine”
Normal : 1,002-1,045, rata-rata 1,008
5. “PH Urine”
Kurang lebih ph = 6 atau sekitar 4,8-7,5 Px dgn kertas lakmus (reaksi) : Urine asam, warna merah Urine basa, warna biru
Peran Hormon dalam proses dasar ginjal
Ø Hormon Aldosteron dan ADH.
Hormon-mormon ini turut berperan dalam pengaturan reabsorpsi dan sekresi air.
Ø Hormon Aldosteron.
Fungsi fisiologis hormon aldosteron yaitu mengatur unsur-unsur mineral (mineralo kottikoid / dihasilkan oleh bagian korteks glandula suprarenalis / adrenalis ) Antara lain Na+ dan K+, yakni terutama mengatur reabsorpsi Na+ dan sekresi K+. Dalam hal ini apabila aldosteron meningkat, menyebabkan reabsorpsi Na+ bertambah dan sekresi K+ bertambah pula. Aldosteron membantu ginjal mengatur volume plasma atau cairan ekstra sel.
Ø Anti Diuretic Hormon (ADH) Vasopresin.
Hormon ini mempuyai fungsi fisiologi sebagai “anti diuretik dengan pekerjaan utama untuk “retensi cairan”. Terutama untuk pengaturan volume cairan ekstra sel dan konsentrasi Na+ dan membantu ginjal mengatur tekanan osmotik plasma.
Mekanisme pengaturan sekresi ADH dipengaruhi oleh :
1. Penurunan volume cairan ekstra sel.
2. Peningkatan osmolaritas CES ( terutama bila kadar Na+ meningkat ).
RENIN
Selain itu ginjal menghasilkan Renin; yang dihasilkan oleh sel-sel aparatus juxtaglomerularis pada waktu :
  1. Konstriksi arteria renalis ( iskhemia ginjal )
  2. Terdapat perdarahan ( iskhemia ginjal )
  3. Uncapsulated ren (ginjal dibungkus dengan karet atau sutra )
  4. Innervasi ginjal dihilangkan
  5. Transplantasi ginjal ( iskhemia ginjal )
Sel aparatus juxtaglomerularis merupakan regangan yang apabila regangannya turun akan mengeluarkan renin. Renin mengakibatkan hipertensi ginjal, sebab renin mengakibatkan aktifnya angiotensinogen menjadi angiotensin I, yg oleh enzim lain diubah menjadi angiotensin II; dan ini efeknya menaikkan tekanan darah .
Renin cepat menghilang di dalam sirkulasi, karena mempunyai “half life” 30 menit, dalam sirkulasi dirusak oleh angiotensinase ; sedang angiotensinogen berasal dari plasma protein yaitu dari fraksi alfa-2 globulin. Mekanisme proses Miksi ( Mikturisi ) Miksi ( proses berkemih ) ialah proses dimana kandung kencing akan mengosongkan dirinya waktu ia sudah penuh dgn urine. Mikturisi ialah proses pengeluaran urine sebagai gerak refleks yang dapat dikendalikan (dirangsang/dihambat) oleh sistim persarafan dimana gerakannya dilakukan oleh kontraksi otot perut yg menambah tekanan intra abdominalis, dan organ organ lain yang menekan kandung kencing shg membantu mengosongkan urine. Pada dasarnya, proses miksi/mikturisi merupakan suatu refleks spinal yg dikendalikan oleh suatu pusat di otak dan korteks cerebri.
Faal kandung kencing pd dasarnya sbb :
1. Bekerja sebagai alat kantong tempat menampung cairan tubuh yang akan dibuang sbg urine.
2. Mendorong urine keluar dari kandung kencing itu ke dalam uretra melalui mekanisme
kontraksi.
Jadi dgn kata lain proses berkemih dimulai sbb :
Pertambahan vol urine → tek intra vesicalis ↑ → keregangan dinding vesicalis (m.detrusor) → sinyal-sinyal miksi ke pusat saraf lebih tinggi (pusat kencing) → untuk diteruskan kembali ke saraf saraf spinal → timbul refleks spinal → melalui n. Pelvicus → timbul perasaan tegang pada vesica urinaria shg akibatnya menimbulkan permulaan perasaan ingin berkemih. Refleks miksi dapat mulai terjadi pd keadaan dimana volume urine kandung kencing sekitar 200-400 cc. Tetapi kadang-kadang, keinginan untuk miksi dapat terjadi walaupun urine dlm kandung kencing blm mencapai 200-400 cc. mis : oleh karena pengaruh psihis ( kejiwaan ).
FUNGSI GINJAL
Fungsi ginjal dpt dibagi atas dua bagian besar yaitu:
Fungsi ekskresi non ekskresi ( fungsi endokrin ) = Fungsi sekresi.
Fungsi ginjal sbg alat ekskresi terdiri atas :
  1. Sebagai alat untuk mengatur volume plasma dan cairan tubuh ( Ces ).
  2. Sebagai alat untuk mengatur keseimbangan osmotik dan elektrolit dalam plasma.
  3. Mengatur keseimbangan asam basa dalam tubuh. 
  4. Sebagai alat pembuangan ( pengeluaran ) sampah-sampah sisa metabolisme akhir bersama urine.
Fungsi ginjal sebagai alat endokrin :
  1. Mengahasilkan renin.
  2. Menghasilkan eritropoetin
  3. Membentuk prostaglandin 
  4. Turut berperan dalam degradasi insulin. 
  5. Berperan dalam metab.vit D menjadi btk aktifnya. 
  6. Beberapa prostaglandin yg lain dan prostasiklin ( PGI2 ) yg disekresi oleh arteriol dan glomerulus.
  7. Menghasilkan Kinin.

.....................
READ MORE - MEKANISME PROSES DASAR GINJAL

REFLECTION

Thursday, April 17, 2008


Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke gereja untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan Betapa lamanya melayani Allahselama satu jam; namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa(spontan); namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.Betapa asyiknya apabila pertandingan sepak bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di gereja lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu perikop dari Kitab Suci; namun betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris. Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang duduk di bangku paling belakang di gereja.Betapa sulitnya untuk menyesuaikan jadwal waktu kita, 2 atau 3 minggu sebelumnya untuk suatu acara gerejani; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan. Betapa sulitnya untuk mempelajari suatu bab sederhana dari Injil untuk di sharingkan dengan orang lain; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain itu. Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran; namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci. Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada mail yang isinya tentang Kerajaan Allah; betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada TUHAN,DIA BAIK,PENGASIH DAN PENYAYANG.

READ MORE - REFLECTION

THIS IS TRUE

  1. Sekurang-kurangnya ada 5 orang dalam dunia yang menyayangi Anda dan sanggup mati karena Anda.
  2. Sekurang-kurangnya ada 15 orang dalam dunia ini yang menyayangi Anda dalam beberapa cara.
  3. Sebab utama seseorang membenci Anda adalah karena dia ingin menjadi seperti Anda.
  4. Senyuman dari Anda boleh membawa kebahagiaan kepada seseorang, walaupun dia tidak menyukai Anda.
  5. Setiap malam ada seseorang mengingat Anda sebelum dia tidur.
  6. Anda amat bermakna dalam hidup seseorang.
  7. Kalau bukan karena Anda,seseorang itu tidak akan hidup bahagia.
  8. Anda seorang yang istimewa dan unik.
  9. Seseorang yang Anda tidak ketahui menyayangi Anda.
  10. Apabila Anda membuat kesalahan yang sangat besar, ada hikmah dibaliknya.
  11. Sekiranya Anda merasa d ipinggirkan, pikirkan dahulu; mungkin Anda yang meminggirkan mereka.
  12. Apabila Anda berpikir tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan sesuatu yang Anda ingini, mungkin Anda tidak akan memperolehnya, tetapi jika Anda percaya pada diri sendiri lambat laun Anda akan memperolehnya.
  13. Kenanglah segala pujian yang Anda terima. Lupakan segala caci maki.
  14. Jangan takut untuk meluapkan perasaan Anda; Anda akan merasa senang bila seseorang mengetahuinya.
  15. Sekiranya Anda punya sahabat baik, ambillah waktu untuk memberitahunya bahwa dia adalah yang terbaik. Hanya semenit diperlukan untuk mendapat sahabat baik, sejam untuk menghargainya, sehari untuk teman tetap paling setia. Walaupun punya harta yang banyak, teman tetap paling berharga.

READ MORE - THIS IS TRUE

LAPAROSCOPY


Tiga dekade yang sudah berlalu telah menjadi saksi dari perkembangan yang cepat dan teknologi yang lebih maju dalam laparoskopi. Laparoskopi operatif baru dikembangkan pada tahun 1970an; dan pada awal tahun 1980an, untuk pertama kalinya laparoskopi digunakan untuk aplikasi langsung penggunaan sumber energi listrik atau energi laser untuk pengobatan endometriosis tingkat lanjut. Penggunaan video kamera resolusi tinggi dengan bobot ringan pada laparoskopi operatif telah mempermudah visualisasi pelvis selama pelaksanaan prosedur operasi yang kompleks. Setelah itu, banyak prosedur lain yang sebelumnya dilakukan menggunakan teknik tradisional, seperti histerekomi, menjadi mungkin dengan laparoskopi. Walaupun demikian, pendekatan dengan prosedur endoskopik mungkin punya kelemahan dalam beberapa pasien. Tetapi beberapa prosedur laparoskopik tampak dapat mengurangi morbiditas dan biaya perawatan yang diakibatkan oleh prosedur operasi. Sedangkan ditinjau dari segi-segi lainnya tampaknya belum efektif untuk menggantikan teknik operasi tradisional. Teknik dan indikasi untuk endoskopi masih sedang dikembangkan.

Komplikasi

Prosedur Laparoskopik dapat dipersulit oleh infeksi, trauma, atau perdarahan, juga halnya oleh permasalahan yang berhubungan dengan penggunaan anastetik. Timbulnya infeksi pada laparoskopik lebih rendah dibandingkan dari pada laparotomi. Sebaliknya, permasalahan visualisasi yang berhubungan dengan perubahan segi anatomis bisa meningkatkan resiko untuk kemungkinan terjadinya kerusakan pembuluh darah atau struktur penting seperti usus, ureter, dan kandung kecing.

Beberapa komplikasi jadi lebih umum terjadi bersamaan dengan laparoskopi dibanding dengan prosedur laparotomi ataupun prosedur lainnya yang dilakukan pada vagina. Pengisian sejumlah besar cairan dalam rongga peritoneal berperan dalam terjadinya gangguan elektrolit atau overload cairan. Dalam keadaan penggunaan gas intraperitoneal yang lama dapat menyebabkan kelainan metabolisme juga memeperburuk fungsi kardiorespirasi. Penggunaan energi listirk ataupun energi laser intraperitoneal berpotensi untuk mengakibatkan komplikasi yang dapat diminimalisir dengan penguasaan pengetahuan mengenai sumber energi yang digunakan, penggunaan teknik yang teliti, dan pemeliharaan instrument yang baik.

Komplikasi akibat anastesi dan kardiopulmoner

Sepertiga kematian yang berhubungan dengan prosedur laparoskopik minor seperti pada sterilisasi adalah sekunder akibat dari anastesia. Komplikasi yang mungkin terjadi akibat anastesi umum antara lain meliputi : hipoventilasi, intubasi esophageal, refluks gastroesophageal, bronchospasme, hipotensi, overdosis narkotika, aritmia jantung, dan henti jantung. Resiko ini dapat ditingkatkan oleh prosedur-prosedur yang tak dapat dipisahkan dari laparoskopi ginekologi. Misalnya, posisi Trendelenburg yang bila dilakukan dalam kombinasi dengan kondisi dimana tekanan intraperitoneal meningkat seperti pada pneumoperitoneum, yang mengakibatkan tekanan pada pleura menjadi lebih besar, akan meningkatkan resiko terjadinya hipoventilasi, hipercarbia, dan acidosis metabolik. Posisi ini, bila dikombinasikan dengan kondisi dimana dilakukan pemakaian agen anastetik yang merelaksasi sphincter esophageal, dapat mengakibatkan regurgitasi dari isi lambung, yang pada akhirnya dapat mendorong terjadinya, bronchospasme, pneumonitis, dan radang paru-paru.

Parameter fungsi dari kardiopulmoner berhubungan erat dengan insufflasi CO2 dan N2O, yang meliputi pengurangan PO2, saturasi O2, volume tidal, ventilasi permenit dan peningkatan respirasi rata-rata. Penggunaan CO2 intraperitoneal sebagai medium pendistensi dikaitkan dengan terjadinya peningkatan PCO2 dan penurunan pH. Tingginya posisi diafragma akibat pengangkatan posisi dikaitkan dengan terjadinya atelektasis basiler, yang mengakibatkan right-to-left shunt dan nilai perfusi-ventilasi yang tidak sesuai.

Komplikasi Cardiovasculer

Aritmia jantung relatif sering terjadi selama laparoskopik dan dihubungkan dengan sejumlah faktor. Yang paling bermakna adalah hypercarbia dan acidemia. Laporan awal mengenai aritmia yang berhubungan dengan laparoskopi, dihubungkan dengan pernapasan spontan; oleh karena itu, kebanyakan anestesiologist sekarang mencoba mengadopsi teknik ventilasi tiruan selama laparoskopi. Timbulnya hypercarbia dapat diminimalisir dengan dengan penggunaan tekanan intraperitoneal kurang dari 12 mmHg.

Resiko untuk aritmia jantung mungkin dapat dikurangi dengan penggunaan NO2 sebagai medium pendistensi. Walaupun penggunaan NO2 berhubungan dengan turunnya angka kejadian aritmia, tetapi NO2 tidak dapat larut di (dalam) darah. Sistem pengangkutan eksternal dapat menghindari terjadinya hypercarbia dan dapat juga melakukan proteksi terhadap aritmia jantung.

Hipotensi dapat terjadi oleh karena berkurangnya aliran balik vena yang diakibatkan tekanan intraperitoneal yang sangat tinggi, dan kondisi ini mungkin dipotensiasi oleh deplesi volume. Kegagalan Vagal dapat terjadi sebagai respon atas tekanan intraperitoneal yang ditingkatkan, yang dapat menyebabkan hipotensi sekunder yang berhubungan dengan aritmia jantung. Semua kondisi ini jadilah lebih berbahaya bagi pasien dengan riwayat adanya penyakit jantung sebelumnya.

Refluks isi lambung

Regurgitasi aspirasi dari isi lambung dapat terjadi selama laparoskopi, terutama pada pasien dengan obesitas, gastroparesis, hernia hiatus, atau pasien dengan obstruksi saluran lambung. Pada pasien ini, jalan udara harus dijaga dengan pemasangan suatu tabung endotrakeal, dan perut harus didekompresi ( misalnya dengan tabung nasogastric). Penggunaan tekanan intraperitoneal dengan serendah mungkin harus dilakukan untuk memperkecil resiko ini. Pasien harus dipindah dari posisi Trendelenburg sebelum diextubasi. Penggunaan rutin preoperative metoclopramide, H2-Blocking agen, dan antasida nonpartikular juga dapat membantu mengurangi resiko ini.

Komplikasi Electrosurgical

Komplikasi electrosurgikal terjadi sekunder akibat cedera termal (panas), karena pemakaian elektroda aktif yang tidak tepat dan sewajarnya, diversi arus merambat kearah rambatan yang tidak diinginkan, dan cedera di daerah elektroda dispersif. Cedera akibat elektroda aktif dapat terjadi baik pada instrument unipolar dan bipolar, sedangkan trauma yang sekunder akibat diversi langsung atau elektroda dispersif terjadi hanya pada teknik unipolar. Komplikasi elektrosurgikal dapat diminimalisir dengan kepatuhan terhadap protokol keselamatan yang disertai pemahaman prinsip bunyi-bunyian pada elektrosurgikal dan kondisi-kondisi yang dapat mengarahkan kepada terjadinya cedera.

Komplikasi Perdarahan

Cedera Pembuluh Darah Besar

Komplikasi perdarahan yang paling berbahaya adalah cedera-cedera pada pembuluh darah yang besar, mencakup aorta dan vena cava, arteri iliaca utama dan cabang-cabangnya, juga arteri, vena iliaca interna dan eksterna. Cedera yang paling sering terjadi karena insersi dari suatu insufflasi jarum tetapi mungkin juga terjadi oleh karena ujung trocars utama atau ancillary troccar. Pembuluh darah yang paling sering cedera adalah aorta dan arteri iliaca utama sebelah kanan yang dicabangkan dari midline aorta. Secara anatomis semakin posterior posisi vena cava dan iliaca maka relative akan memberikan proteksi, tetapi bukan berarti memberikan kekebalan terhadap terjadinya cedera. Walaupun kebanyakan cederanya adalah kecil dan dapat diperbaiki dengan jahitan, beberapa cedera yabg lebih besar mungkin memerlukan ligasi dengan atau tanpa insersi graft pembuluh darah. Adanya kematian sudah pernah dilaporkan.

Setelah mengalami cedera vaskuler, pada pasien umumnya berkembang suatu hipotensi yang tersembunyi dengan atau tanpa hemoperitoneum. Pada beberapa kasus, darah dapat teraspirasi melalui insufflasi jarum sebelum tampak adanya distensi gas. Biasanya perdarahan terdapat di dalam ruang retroperitoneal, yang biasanya mengakibatkan keterlambatan diagnosa sebagai konsekuensinya bisa terjadi renjatan hipovolemik. Untuk menghindari diagnosa dini yang terlambat, maka keadaan dan kondisi pembuluh-pembuluh darah besar harus diketahui sebelum menyelesaikan atau mengakhiri prosedur.

Jika aspirasi darah ditemukan pada insufflasi jarum, maka posisi jarum tidak boleh diubah, harus dibiarkaan pada letaknya sampai dilakukan persiapan darurat untuk menampung produk-produk darah dan dilaksanakannya laparotomi. Jika hemoperitoneum terdiagnosa ketika melakukan visualisasi rongga peritoneal, dapat digunakan suatu instrumen untuk menyerap perdarahan yang terjadi, dan jika bisa dilakukan oklusi sementara terlebih dahulu terhadap pembuluh darah tersebut. Pada saat pembukaan ke dalam cavum peritoneum aorta dan vena cava harus segera di tekan sampai berada dibawah level pembuluh darah renalis, agar dapat mengontrol kehilangan darah untuk sementara. Tindakan prosedur yang harus dilakukan disesuaikan tergantung dari posisi dan luasnya kerusakan dari pembuluh darah.

Cedera pembuluh darah pada dinding abdomen

Pembuluh darah pada dinding abdomen yang sering tercederai selama laparoskopi adalah pembuluh-pembuluh epigastric superficial inferior ketika dicabangkan dari arteri dan vena femoralis pada cephalad course di setiap kuadran yang lebih rendah. Biasanya kerusakan yang terjadi bervariasi diakibatkan oleh jalur masuk awal dari suatu ancillary trocar atau selanjutnya oleh penggunaan alat yang lebih luas saat pelaksanaan laparoskopi. Permasalahan mungkin dapat dikenali dengan cepat dari observasi atas tetesan darah yang menetes sepanjang cannula atau yang ke luar melalui goresan pada suatu insisi. Walaupun demikian, pendarahan dapat terobstruksi oleh cannula sampai saatnya nanti akan diatasi pada akhir operasi.

Cedera yang lebih serius biasa terjadi pada pemuluh darah epigastric inferior bagian dalam, yang merupakan cabang arteri, vena iliaca eksterna pada cephalad course tetapi terletak sebelah dalam dari fascia rectalis dan biasanya juga terletak kedalam otot. Lebih lateral daripada itu terletak pembuluh darah sirkumfleksi iliaca, yang biasanya jarang dijumpai saat pelaksanaan laparoskopi. Laserasi pembuluh darah ini menyebabkan pendarahan di bagian dalam, yang biasanya sulit dikenali dan menyebabkan perdarahan extraperitoneal.

Tanda-tanda tambahan adanya cedera vaskuler, dapat dilihat dari darah yang menetes sepanjang cannula, shock postoperative dan diskolorisasi dinding abdominal atau hematoma yang terdapat disekitar tempat dilakukannya insisi. Dalam beberapa peristiwa, darah dapat menandakan adanya cedera pada daerah yang lebih jauh, yang dipresentasikan sebagai massa pararectal atau vulvar. Diagnosa yang terlambat dapat dicegah dengan evaluasi laparoskopik pada setiap insisi peritoneal setelah dilakukan pelepasan cannula.

Trauma pembuluh epigastric superficial inferior pada umumnya dapat berhenti secara spontan; oleh karena itu, pelaksanaan manajemennya diharapkan sesuai dengan indikasi trauma. Penjahitan lansung dapat dilakukan untuk memperbaiki laserasi pembuluh darah epigastric inferior bagian dalam. Jika terjadi hematoma postoperatif, kompresi lokal harus dilakukan sedini mungkin. Membuka atau melaksanakan aspirasi pada hematoma tidak boleh dilakukan sebab dapat menghambat efek tamponade dan meningkatkan resiko terbentuknya abses. Jika massa terus membesar atau jika ditemukan tanda adanya hypovolemia, luka harus diperiksa lebih lanjut.

Trauma pembuluh darah intraperitoneal

Perdarahan bisa diakibatkan oleh penetrasi langsung tanpa sengaja ke dalam suatu pembuluh darah atau karena kegagalan suatu teknik oklusive (penyumbatan) spesifik. Adanya perdarahan yang tersamarkan, mungkin karena adanya suatu penundaan lebih lanjut dari hasil diagnosa laparoskopi karena terbatasnya lapangan visual atau karena oklusi oleh tekanan sementara dari CO2 di dalam rongga peritoneal.

Kelalaian yang mengakibatkan kerusakan pada arteri dan vena pada umumnya segera terlihat. Arteri yang terpotong akan mengalami spasme dan baru berdarah beberapa menit sampai beberapa jam kemudian, tidak dapat terlihat untuk sementara waktu oleh karena terbatasnya lapangan pandang pada laparoskop. Oleh karena itu, pada akhir prosedur, semua area pembedahan harus secara hati-hati diperiksa kembali. CO2 harus dihisap keluar, untuk menurunkan tekanan intraperitoneal sehingga pembuluh darah yang teroklusi untuk sementara oleh tekanan yang lebih tinggi dapat kembali ke keadaanya yang semula, sehingga bisa dilihat.

Komplikasi Gastrointestinal

Perut, usus , dan kolon dapat cedera karena prosedur laparoskopi. Penetrasi mekanis ke dalam usus halus atau usus besar dapat terjadi 10 kali lebih sering ketika laparoskopi dilakukan terhadap pasien yang mengalami radang intraperitoneal atau operasi abdominal. Kelokan-kelokan usus dapat melekat pada dinding abdomen di bawah lokasi insisi dan menjadi ikut terciderai saat dilakukannya insisi.

Komplikasi akibat suhu dan proses pembedahan

Sering lebih mudah untuk mengenali cedera atau komplikasi pada usus yang terjadi selama pembedahan dibandingkan dengan cedera karena suhu (panas) pada usus, terutama jika cedera suhu (panas) tersebut terjadi karena pemakaian energi listrik atau energi laser. Sekalipun cedera yang diakibatkan panas dapat mudah dikenali, tapi sukar untuk memperkirakan tingkat kerusakannya dengan inspeksi saja, sebab daerah yang telah mengalami kerusakan biasanya melebihi area rusak yang terlihat secara pandangan visual kita. Pada beberapa pasien, terlambatnya hasil diagnosa mengakibatkan peritonitis dan demam, yang biasanya terjadi beberapa hari kemudian tetapi adakalanya tidak terlihat walaupun sudah beberapa minggu. Bila trauma mekanik pada usus dapat dideteksi sewaktu pembedahan, penanganan yang dilakukan adalah sama seperti pada cedera yang diakibatkan oleh troccar. Jika hasil diagnosa tertunda sampai terjadinya peritonitis postoperatif, laparotomy harus dilakukan secepatnya.

Cedera karena panas dapat ditangani dengan baik jika lukanya superficial dan dangkal. Dalam studi yang dilakukan pada 33 wanita dengan cedera akibat panas yang bila ditangani dengan baik di rumah sakit, hanya ada 2 kasus dari antarnya yang memerlukan prosedur laparotomi karena adanya perforasi.

Cedera/trauma urologic

Kerusakan pada kandung kencing atau ureter yang terjadi selama laparoskopi, biasanya terjadi akibat trauma mekanik atau trauma termal. Idealnya, cedera-cedera tersebut sebenarnya harus dapat dicegah, akan tetapi juga sangat penting untuk mengenali cedera tersebut intraoperative bila tidak berhasil melakukan pencegahannya.

Cedera/truma pada vesika urinaria

Cedera pada kandung kencing dapat terjadi pada perforasi oleh karena trocar pada vesika urinaria yang tidak dikosongkan, boleh juga terjadi saat pemisahan vesika dari struktur yang melekat padanya, atau saat memisahkannya dari anterior uterus. Cedera yang terjadi didapat secara nyata dengan melihatnya langsung. Jika terdapat adanya suatu pemasangan kateter harus diperhatikan adanya, hematuria atau pneumaturia (CO2 di (dalam) pipa masuk ke dalam system drainase). Adanya laserasi dalam vesika urinaria dapat dipertegas dengan injeksi susu steril atau blue methylene solution yang dilemahkan melalui kateter transurethral ke dalam tubuh. Cedera karena suhu (panas) pada vesika urinaria, awalnya pasti tidak dapat dideteksi, dan jika luput dari diagnosa akan mengakibatkan peritonitis atau fistula.

Pengosongan rutin vesika urinaria preoperative pada umumnya mencegah cystotomi akibat troccar. Separasi vesika urinaria dari uterus atau struktur lainnya memerlukan visualisasi yang baik, retraksi yang sesuai, dan teknik pembedahan yang sempurna. Pembedahan mekanik tajam banyak dilakukan, terutama bila ditemukan adanya adhesi yang tebal.

Cedera pada vesika urinaria yang sangat kecil ( 1-2 cm) dapat ditangani dengan catheterisasi selama 5-7 hari. Jika koreksi lesi dapat dilakukan dengan segera, catheterisasi mungkin tidak diperlukan. Jika lesi yang lebih besar diketemukan, dapat dilakukan koreksi secara laparoskopik. Tetapi, jika trauma terjadi pada trigone atau disekitar trigone, harus dilakukan suatu prosedur koreksi yang terbuka. Mekanisme terjadinya cedera harus dipertimbangkan dengan seksama dalam membuat evaluasi koreksi ini, sebab biasanya pada trauma elektris cedera sering meluas di luar batas daerah yang mengalami kerusakan yang terlihat oleh mata .

Untuk lesi kecil, bisa dilakukan penutupan dengan jahitan 2-0 sampai 3-0 berlapis dengan benang yang dapat diabsorbsi. Jika ada trauma suhu (panas), maka daerah yang mengalami koagulasi haruslah dieksisi terlebih dahulu. Katheterisasi postoperative baik transurethral maupun suprapubic harus dipertahankan selama 2-5 hari untuk laserasi fundus yang kecil dan untuk lesi pada daerah trigone kateterisasi harus dipertahankan selama 10-14 hari. Cystography harus dilakukan sebelum melepaskan kateter urine.

Cedera ureter

Penyebab yang paling umum dari cedera ureter pada saat laparoscopi adalah trauma elektrosurgical. Tetapi, cedera ureter juga dapat terjadi setelah pembedahan mekanik, pelaksanaan pemotongan linier dan saat stapling instrumen. Walaupun pengenalan adanya cedera ureter intraoperative dapat dilakukan, tapi biasanya hasil diagnosanya terlambat. Laserasi ureter mungkin dapat dikenali intraoperatif secara visual atau dengan injeksi intravena indigo carmine. Pada trauma karena suhu (panas) yang ditemukan 14 hari postoperatif didapatkan adanya demam, sakit di daerah abdominal atau sakit panggul, dan peritonitis. Kemungkinan dapat ditemukan adanya leukositosis, dan pyelography pembuluh darah dapat menunjukkan adanya extravasasi pada urin atau urinoma. Obstruksi mekanis karena staple atau jahitan (suture) dapat dikenali intraoperatif melalui inspeksi langsung. Obstruksi ureteral biasanya baru dapat terlihat beberapa hari sampai 1 minggu postopertif, ditandai dengan adanya gejala sakit panggul dan demam.

Pemerikasaan ultrasound abdominal mugkin dapat membantu, tetapi pyelography intravena dapat mengidentifikasi derajat dan lokasi obstruksi dengan lebih tepat.

Kerusakan atau incontinensia yang berlangsung lama adalah suatu tanda adanya fistula ureterovaginal atau vesicovaginal yang tak terdeteksi. Vesikofistula dapat dideteksi dengan menemukan adanya celupan metilen blue pada bagian atas tampon yang sebelumnya ditempatkan di dalam lubang vagina, setelah mengisi vesika urinaria dengan methylene biru. Pada suatu fistula ureterovaginal, methylene biru tidak akan bisa melewati lubang vagina, tetapi fistula ini dapat dideteksi dengan injeksi indigo carmine intravena.

Untuk mengurangi reiko terjadinya cedera diperlukan pengetahuan tentang alur posisi ureter melalui rongga pelvis. Ureter pada umumnya melewati peritoneum dari dinding samping pelvis diantara pelvic brim dan perlekatan ligamentum yang luas. Karena adanya variasi antara pasien yang satu dan yang lainnya dan juga karena adanya suatu penyakit, dapat membuatnya bisa masuk kedalam ruangan retroperitoneal. Teknik yang digunakan dalam melakukan operasi peritoneal juga berperan dalam resiko terjadinya cedera pada ureter. Teknik dissectio tajam dan tumpul lebih banyak digunakan, walaupun dapat dilakukan hydrodissectio. Pemasangan stent ureteral yang tepat dan selektif juga akan sangant membantu.

Trauma pada ureter dapat ditangani dengan cepat bila dapat didiagnos intraoperatif. Walaupun hanya kerusakan yang sangat terbatas yang dapat sembuh kebanyakan pasien mengindikasikan adanya perbaikan, dengan prosedur membiarkan ureteral stent pada tempatnya selama 10-21 hari. Meskipun telah dilakukan perbaikan laparoskopik dan transeksio pada laserasi ureter, kebanyakan cederanya memerlukan tindakan laparotomi untuk penangananya.

Bila adanya kerusakan ureter terlambat didiagnosa dengan terlambat, vesika urinaria harus dikosongkan dengan kateter. Obstruksi incomplete atau kecil dan laserasi dapat ditangani dengan baik dengan penggunaan ureteral stent retrograde ataupun anterograde. Urinoma dapat didrainase secara percutan. Jika ada stent yang tidak bisa ditempatkan dengan baik, suatu nephrostomy percutan juga harus dilakukan sebelum tindakan diambil alih dengan operasi.

Truma Neurologik

Cedera saraf perifer biasanya berkaitan dengan penempatan posisi pasien yang buruk atau karena penekanan berlebihan yang dilakukan oleh ahli bedah. Cedera saraf juga boleh terjadi sebagai hasil dari diseksi pembedahan.

Pada ekstrimitas, trauma dapat terjadi langsung, seperti tertekannya saraf peroneal karena berlawanan dengan pijakan kaki. Pada saraf femoral atau saraf sciatic dapat terjadi peregangan saraf yang berlebihan dan kerusakan yang disebabkan tidak sesuainya pengaturan posisi pinggul atau daerah sambungan lutut. Cedera pleksus brachialis dapat terjadi karena posisi sandaran ahli bedah atau asisten yang berlawanan dengan posisi abduksi tangan yang terjadi sepanjang prosedur dilakukan. Jika pasien ditempatkan pada posisi Trendelenburg yang curam, pleksus brachialis dapat rusak karena tekanan pada bagian sambungan bahu. Pada kebanyakan kasus, ditemukan adanya defisit sensoris dan motoris pada pasien yang mendapatkan anastesi secara darurat. Resiko kerusakan pada pleksus brachialis dapat dikurangi dengan pemberian bantalan dan sokongan pada lengan dan bahu atau dengan penempatan lengan pasien pada posisi adduksi.

Kebanyakan lesi pada saraf perifer dapat terkoreksi secara spontan. Lamanya penyembuhan tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan lesi tersebut. Untuk kebanyakan lesi perifer penyembuhan total dari saraf sensorik biasanya terjadi dalam 3-6 bulan. Kesembuhan dapat dipermudah dengan fisioterapi, pemasangan kait (braches) yang sesuai, dan rangsangan elektrik pada otot yang dipengaruhi oleh saraf tersebut. Bedah micro terbuka harus dilakukan untuk transeksi sarf-saraf intrapelvic utama.

Infeksi

Infeksi luka setelah laparoskopi biasanya jarang; kebanyakan hanya infeksi kecil pada kulit dan diharapkan dapat diatasi bila dilakukan manajemen yang baik, drainase, dan pemberian antibiotic. Dapat ditemukan nekrosis permukaan yang berat, tetapi jarang terjadi. Adanya infeksi vesika urinaria, cellulitis pelvis , dan abses pelvis sudah pernah dilaporkan.

Resiko untuk terjadinya infeksi pada laparoskopi lebih rendah dibandingkan pada operasi vagina ataupun pada operasi abdominal terbuka. Dapat diberikan pilihan pemberian antibiotik profilaksis pada pasien-pasien tertentu ( misalnya, pada mereka yang mempunyai resiko tinggi untuk endocarditis dan bagi mereka yang kepadanya direncanakan akan dilakukan histerektomi). Pasien harus memonitor temperatur badan mereka dan melaporkan secepatnya jika temperature lebih tinggi dari 38°C.

READ MORE - LAPAROSCOPY

HISTEROSKOPI


Diberitakan pada tahun 1973 bahwa lisis adhesi intrauterine dengan hiteroskopi pertamakali dilakukan menggunakan teknik bedah elektronik yang dipandu dengan endoskopi yang diadaptasi dari ilmu urologi kedalam ilmu kebidanan yang digunakan untuk mereseksi leiomyoma uteri . Divisi Hysteroscopic septum uterus dikembangkan dengan penggunaan teknik di mana gunting dapat terus bergerak melalui bagian luar dari endoscope. Destruksi histeroskopic dari endometrium dilaporkan dilakukan antara lain dengan menggunakan teknik :penguapan laser Yag, reseksi electrosurgical, dan koagulasi electrosurgical.

Penggunaan histerokopi untuk diagnostik dan operatif telah dibatasi oleh berbagai kesulitannya dalam memperoleh gambaran yang konsisten dan bisa diterima ( sebagai hasil distensi yang tidak adekuat, serta pendarahan) dan persepsi bahwa potensi terapeutiknya rendah. Walaupun teknik dan teknologi histeroskopi masih sedang dikembangkan, tetapi mutu penggambaran visualisasi yang sekarang ada adalah sudah sangat baik sebab penggunaan endoscope diameter kecil yang sudah bisa diterapkan karena adanya peningkatan teknologi serat optik. Penggunaannya bersama-sama pencitraan ultrasound dapat memberikan suatu gambaran dinding myometrium selama prosedur resectoskopik.

Karena diagnosa dengan menggunakan histeroskopi dapat dilakukan baik di klinik ataupun tempat praktek tanpa perlu menggunakan anasthesi, penggunaannya secara luas untuk menyelidiki pendarahan uterus yang abnormal telah diizinkan. Yang termasuk kedalam prosedur pembedahan histeroskopi antar lain meliputi pengangkatan polip, eksesi leiomyoma, ablasi endometrial, dan pemisahan adhesi dan septa uteri. Sebagian dari prosedur ini sangat baik bila dilakukan dengan laparoskopi tetapi pada prosedur yang lainnya, walaupun tampaknya menjanjikan, tetapi harus dilakukan penyelidikan klinis yang lebih lanjut. Histeroskopi telah diusulkan sebagai metode untuk menggantikan blind sampling rongga uterus sebab dapat memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah.

Komplikasi atau faktor penyulit

Resiko yang dapat terjadi saat histeroskopi diagnostik antara lain meliputi perforasi uterus, infeksi/peradangan, pendarahan berlebihan, dan kesulitan yang berhubungan dengan media pendistensi. Resiko yang belakangan ini timbul meliputi emboli CO2 dan edema paru-paru yang terjadi karena overinfusi dextran 70 (Hyskon) 32% atau karena cairan dengan viskositas rendah. Histeroskopi diagnostik yang dilakukan di tempat praktek mempunyai tingkat komplikasi yang rendah (0%-1%). Resiko komplikasi pada histeroskopi berkaitan dengan salah satu dari lima aspek saat pelaksanaan prosedur dilakukan, yaitu : ( a) anesthesia, ( b) perforasi, ( c) pendarahan, ( d) penggunaan energi, dan ( e) medium pendistensi.

a. Anastesia

Anastesi lokal dilakukan intracervical atau paracervical dengan suntikan lidocaine 0.5%-2% atau mepivacaine tersolusi, dengan atau tanpa vasoconstriktor lokal seperti adrenaline. Overdosis dicegah dengan memastikan tidak melakukan injeksi intravascular dan dengan mengatur dosis anastesi tidak melebihi dosis maksimum yang direkomendasikan (lidocaine, 4 mg/kg; mepivacaine, 3 mg/kg). Penggunaan suatu vasokonstriktor untuk mengurangi jumlah penyerapan sistemik , dan menggandakan kadar dosis maksimum dapat digunakan.

Yang termasuk komplikasi karena injeksi intravaskuler dan overdosis anasthesia antara lain meliputi alergi, efek neurologis, dan konduksi myocard yang lemah. Alergi ditandai dengan gejala yang khas, seperti agitasi, palpitasi, pruritus, batuk, nafas yang pendek, urticaria, bronchospasme, shock, dan konvulsi. Acuan penanganan meliputi administrasi oksigen, infus cairan isotonik intravena, pemberian adrenalin intramuscular atau subcutan, dan pemberian prednisolone dan aminophylline intravena. Efek pada jantung berkaitan dengan konduksi myocard yang lemah yang antara lain dapat mengakibatkan: bradycardia, henti jantung, shock, dan konvulsi. Penanganan perawatan pada keadaan darurat antara lain dengan administrasi oksigen, pemberian atropine (0.5 mg) intravena, dan pemberian adrenaline intravena, dan inisiasi resusitasi jantung yang sesuai. Manisfetasi pada sistem saraf pusat yang paling sering terjadi adalah paresthesia lidah, ras kantuk, tremor, dan gangguan konvulsi. Pilihan untuk terapi meliputi pemberia diazepam intravena dan bantuan pada sistem pernapasan.

b. Perforasi

Perforasi dapat terjadi saat dilatasi serviks atau selama prosedur histeroskopi sedang dilakukan. Bila terjadi perforasi maka rongga endometrium tidak mengalami distensi , dan lapangan pandang saat histeroskopi akan hilang. Bila perforasi terjadi saat dilatasi serviks, maka prosedur harus dihentikan, tetapi pada umumnya tidak akan ada cedera lainnya. Jika perforasi uterus terjadi karena peralatan histeroskopik, seperti oleh karena ujung suatu laser, atau suatu electroda yang teraktivasi, maka akan ada resiko untuk pendarahan dan cedera pada viscera yang terletak berdekatan dengan daerah perforasi. Bila hal tersebut terjadi, operasi harus dihentikan dan instrumen ditarik mundur dengan dipandu oleh histeroskop.

Jika ada tanda-tanda pendarahan dan diperkirakan adanya cedera visceral, laparoskopi atau laparotomi harus dilakukan karena perlukaan pada uterus relatif mudah untuk dideteksi dengan laparoskopi. Tetapi bila terjadi trauma mekanis atau termis pada usus, ureter, atau pada kandung kecing maka keadaan akan menjadi lebih sulit dan memerlukan prosedur laparotomi untuk penanganannya. Dan jika memungkinkan dan bila kondisi pasien masih kooperatif, harus dijelaskan kepadanya menyangkut situasi yang sedang terjadi dan memintanya untuk melaporkan bila ada keluhan dari adanya gejala pendarahan atau trauma visceral.

c. Pendarahan

Pendarahan dapat terjadi selama atau setelah histeroskopi yang bisa diakibatkan oleh trauma pada pembuluh darah myometrium atau cedera pada pembuluh darah pada pelvis. Pada saat prosedur resektoskopik dapat terjadi laserasi pada pembuluh darah myometrium.

Dalam perencanaannya operasi akan melibatkan pelaksanaan reseksi yang dalam, oleh karenanya tranfusi darah autolog dapat dilakukan sebelum pelaksanaan operasi. Resiko pendarahan dapat dikurangi dengan suntikan preoperative vasopressin yang dilemahkan ke dalam stroma cervical. Resiko untuk cederanya cabang-cabang arteri uterine dapat diminimalisir dengan mengurangi dalamnya reseksi pada bagian lateral cavum endometrial dekat isthmus uteri dimana teknik ablasi akan digunakan. Ketika ditemukan pendarahan selama prosedur resectoskopi, bola electrode dapat digunakan untuk mengeringkan pembuluh darah secara electrosurgical. Pendarahan yang sulit berhenti dapat terjadi sebagai respon terhadap suntikan vasopressin yang dilemahkan atau karena inflasi kateter balon Foley F30-Ml kedalam cavum endometrium.

d. Trauma suhu (thermis)

Temperatur tunika serosa uterus tidak meningkat dengan sesuai selama koagulasi electrosurgical endometrium, bahkan pada bagian cornu, yang merupakan area tertipis myometrium. Jika suat serat laser ataupun electroda yang diaktifkan digunakan untuk menembus ke dalam uterus, maka struktur-struktur yang melingkupinya seperti usus besar, traktus urinarius, dan pembuluh darah yang terdapat didaerah tersebut akan mempunyai resiko untuk cedera. Oleh karena itu penggunaan serat laser atau electroda yang diaktifkan harus dihindari, tetapi jika telah terjadi penetrasi pada dinding uterus oleh suatu elektroda yang aktif, maka pemeriksaan langsung pada viscera pelvis wajib dilakukan. Laparoscopy adalah langkah pertama yang paling sesuai untuk hal ini. Lokasi perforasi harus diperiksa untuk menyingkirkan kemungkinan adanya pendarahan pada lokasi yang penting. Kebanyakan perforasi tidak memerlukan perbaikan. Tetapi, dinding samping pelvis, kandung kecing, usus halus dan usus besar bowel harus diperiksa dengan hati-hati. Jika terjadi kerusakan saluran cerna, maka laparotomy harus dilakukan untuk koreksi kerusakan tersebut.

Cedera-cedera akibat panas pada saluran kencing dan usus mungkin sulit untuk didiagnosa, dan gejalanya tidak akan kelihatan untuk beberapa hari sampai 2 minggu ke depan. Oleh karena itu, pasien harus dijelaskan mengenai gejala-gejala yang bisa mengindikasikan adanya peritonitis.

e. Medium pendistensi

Karbon dioksida

CO2 dapat menyebabkan emboli dan mengakibatkan morbiditas intraoperative dan kematian yang serius. Resiko ini bisa ditiadakan dengan tidak menggunakan CO2 bersamaan dengan prosedur operatif dan dengan memastikan tekanan insufflasi selalu kurang dari 100 mmHg dan laju alirannya kurang dari 100 mL/min. Insufflator yang digunakan harus dirancang khusus untuk histeroskopi; walaupun demikian kenyataannya sangatlah sukar untuk mengatur laju alir insufflator laparoskopik di bawah 1,000 mL/min.

Dextran 70

Dextran 70 adalah suatu medium hiperosmolar yang dapat menginduksi respon alergi, coagulopathy, dan jika diinfuskan dalam volume yang cukup , dapat mengakibatkan suatu beban vaskuler yang terlalu berat (vascular overload) dan gagal jantung. Karena dextran bersifat hidrofilik, sehingga dapat menarik cairan ekstravaskuler 6 kali volume sendiri ke dalam peredaran sistemik. Konsekuensinya, penggunaannya harus dibatasi dengan volume yang harus kurang dari 300 mL, terutama sekali pada penggunaannya di tempat praktek.

Cairan dengan viskositas rendah

Cairan dengan viskositas rendah yang paling sering digunakan adalah glycine 1.5% dan sorbitol 3%, sebagian besar oleh karena harganya yang murah, kompatibilitasnya dengan electrosurgery, dan ketersediaannya dalam kantong dengan ukuran volume yang besar. Tetapi, pengaliran cairan dengan media hipotonis secara kontinyu ke dalam sistem dapat mengakibatkan gangguan cairan dan elektrolit.

  1. Sebelum dilakukan suatu prosedur resectoscopi, kadar basa serum elektrolit harus diukur. Wanita dengan penyakit kardiopulmoner harus dievaluasi secara hati-hati. Penggunaan agen selektif seperti Gnrh agonists preoperative dapat mengurangi durasi operasi dan penyerapan medium pendistensi.
  2. Di dalam ruangan operasi, Infusi dan pengumpulan media harus berlangsung pada suatu sistem tertutup untuk memungkinkan pengukuran yang akurat dari volume yang diserap. Volume harus dihitung tiap-tiap 5 menit atau sekurang-kurangnya tiap-tiap 15 menit.
  3. Gunakan tekanan intrauterine pada batas tekanan yang paling rendah yang memungkinkan, karena penting untuk mendapatkan distensi yang cukup untuk menyelesaikan operasi, yang pada umumnya pada level di bawah tekanan arteri rata-rata. Range yang baik adalah antara 70 sampai 80 mmHg, yang dapat dicapai dengan menggunakan suatu pompa khusus atau dengan mempertahankan meniskus kantong infus 1 m lebih tinggi dari posisi uterus pasien.
  4. Bila terjadi defisit cairan lebih dari 1 L harus dilakukan pengukuran elektrolit. Pengukuran harus diselesaikan secara cepat dan efisien. Jika defisit lebih dari 2 L, prosedur harus diakhiri, dan dilakukan pemberian diuretic seperti mannitol atau furosemide seperlunya. Pada pasien dengan kompensasi kardiovaskular, defisit harus dihindari.

READ MORE - HISTEROSKOPI

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget