FOOD ALLERGY (ALERGI MAKANAN)

Saturday, November 29, 2008


 

Latar belakang dan Definisi

Sejak lebih dari 2000 tahun lalu → Hippocrates telah dikenal gejala reaksi akibat makanan yang tidak diinginkan dan tercatat dalam literature Barat. Sejumlah reaksi allergy yang disebabkan oleh makanan didasarkan pada riwayat allergy yang tercatat sejak thn 1950.

Lovelles melaporkan delapan pasien yang allergy susu sapi. Dan 25 pasien allergy tepung jagung.

Goldman et al melaporkan sejumlah penelitian yg dilaporkan suspect allergy terhadap susu, pada 89 anak. Yang kemudian dikenal dengan Goldman kriteria tentang diagnosis allergy makanan.

May 1976, memperkenalkan tentang double blind, placebo-controlled oral food challenges (DBPCFC), untuk diagnose tentang allergy makanan.

Kerjasama antara American academy of allergy and immunology – National Institut of Allergy and Infectious Disease (NIH) mempublikasikan usulan tentang standar nomenclature Reaksi yang tidak diinginkan disebabkan oleh makanan. Reaksi ini dikategorikan dalam 2 tipe, yaitu :

  1. Food allergy (food hipersensitivity)
  2. Food intolerance

Food Allergy, reaksi yg disebabkan oleh respons immunology yg abnormal, sedangkan food intolerance disebabkan oleh mekanisme respons yang non-imunologik.

Secara garis besar penyebab food intolerance adalah reaksi yang tidak diharapkan dari makanan yg disebabkan oleh kontaminan/bahan toksik seperti ; histamin yg berasal dari ikan, toksin Salmonella, Shigella, & Campylobacter), sifat farmakologi dari makanan, seperti caffeine dalam kopi & soft drink, gangguan metabolik seperti lactase defisiency atau reaksi idiosyncracy dari pasien. Reaksi karakteristik allergy makanan kebanyakan hipersensitivity dari IgE-mediated (tipe I), meskipun kebanyakan raksi GIT disebabkan oleh mekanisme reaksi immun non-IgE mediated ( delayed cell-mediated (type IV) hipersensitivity)

Makanan dan minuman yg masuk kedalam tubuh setiap hari mengandung sejumlah besar antigen eksogen yg diperkirakan dapat diderita oleh manusia disepanjang hidupnya diantaranya sampai berton – ton. GIT menggunakan sejumlah kemampuan mekanisme imunologik dan non-immunologik untuk mencegah masuknya protein asing kedalam tubuh. Barier non imunologik misalnya, sekresi asam lambung, proteolisis dari enzim intestin dan pankreas, peristaltik, lapisan mukosa, membran mikrovilli. Enterosit dari usus secara selektif memnyerap peptida yg ukuran kecil serta AA, dan oleh aktivitas lisosome akan memecah peptida kecil menjadi fragmen yg nonantigen. Immunologik barrier yg utama adalah sekresi dari molokul secretory-IgA, kedalam saluran usus, dan membentuk kompleks, dengan protein asing dan mencegah penyerapan. Sebagai tambahan bahwa kompleks immun meningkatkan pelepasan ukus dari sel-sel goblet, proteolisis permukaan mukosa. Serum IgG dan IgA antibodi dapat mengikat protein asing, dimana dengan meningkatkan akses kesirkulasi yg menunjukkan kerja/membuka jalan oleh kerja retikuloendothelial system. Meskipun ternyata secara terus menerus terjadi pencegahan terhadap masuknya protein asing , namun ternyata protein makanan sangat siap meningkatkan akses kesirkulasi dan ditranspor ketarget organ. Walzer meneliti bahwa food antigen menngkatkan akses kedalam tubuh pada semua level dari GIT. Dan peneliti lain menyatakan bahwa permiabilitas antigen meningkat setelah gastroenteritis pada anak-anak. Meningkatnya kerentanan anak terhadap berbagai antigen ini akibat rendahnya atau tidak terbentuknya sekretory IgA pada sekresi intestinal.

Perkembangan food allergy adalah akibat dari interaksi abnormal antara allergen dan immune system GIT. Glycoprotein dari fraksi makanan yg menyebabkan terjadinya respons allergik. Kebanyakan glycoprotein yg allergenic dengan BM 14.000-40.000 d (dalton), adalah water soluble, sebagian besar adalah heat reisitent, tahan asam.dan hanya beberapa makanan yg secara umum sebagai penyebab reaksi allergi, seperti susu, telur, kacang-kacangan, kedele, gandum pada anak, dan ikan, cumi, kacang-kacangan pada orang dewasa.

Individu normal akan menghasilkan antibodi IgA, IgM, dan IgG, terhadap antigen makanan begitu makanan melewati barrier usus, atau secara selektif diserap oleh mast cell pd intestinal Peyer's patches dan adanya antigen limfosit. Setelah makan, kompleks antigen-antibody makanan normal ditemukan dalam tubuh manusia. Perkembangan reaksi allergy makanan,antigen makanan yg spesifik antibody IgE dan atau perkembangan respons abnormal dari T-cell belum jelas diketahui.

Reaksi IgE-meediated

Reaksi allergy makanan yg melibatkan IgE sangat karakteristik. IgE antibodi terikat sangat erat dengan Fc-reseptor didalam mast-cell dan basophil. Mast cell perivaskuler sangat prominent pd seluruh permukaan tubuh yg melawan lingkungan sekitar, seperti kulit, saluran nafas, saluran cerna. Pada saat reaksi allergen dengan antibodi IgE mengikat mast cell, maka dilepaskan mediator seperti histamin, prostaglandin, leukotrienes. Mediator tersebut menyebabkan vasoldilatasi, kontraksi otot polos, sekresi mukus, menyebabkan gejala hipersensitivity segera terlihat. Mast cell yg diaktivasi juga segera melepaskan berbagai cytokines, termasuk interleukin, platelet-activating factor, dan beberapa mediator lainny yg dapat meningkatkan respons dari IgE-mediated late-phase. Neutrophils, eosinophils, dan yg lebih besar lagi yaitu infiltrat limfosit selama 6-,8 jam pertama. Sel-sel ini diaktivasi dan dilepaskan oleh berbagai mediator, seperti platelet,-activating factor, peroksidase, eosinophil yg berbasis utama protein, dan eosinophil cationic protein. Selama 24-48 jam infiltrate monosit dan limfosit memasuki daerah yg memberi gambaran reaksi peradangan yg kronis. Dengan memakan kembali allergen makanan, sel mononuclear dirangsang untuk menghasilkan histamin releasing factor (HRF), suatu cytokine yg dapat bereaksi dengan molokul IgE terikat pada permukaan mast cell dan basophil dengan meningkatkan releaseabilitynya. Produksi HRF, dihubungkan dengan hiperaktivitas dari bronchus pasien dengan asthma, dan juga dapat dihubungkan juga dengan iritability cutaneus pada anak denga atopic dermatitis. Reaksi allergi oleh IgE-mediated dapat memprovokasi terjadinya urtikaria, angioedema, eczematous rashes, rhinoconjunctivitis, asthma, vomiting, dan diare.

Reaksi non IgE-mediated tidak dibicarakan ( yg dibicarakan yang ada hubungannya dengan shock abnaphylactic)

Tanda-tanda dan gejala

Gejala paling umum dari reaksi hipersensitivity terhadap makanan hanya sedikit dibicarakan dan yg terbanyak adalah akibat dari reaksi IgE-mediated.

Mekanisme IgE-mediated.

Urticaria akut/angioedema terjadi setelah makan atau kontak dengan makanan relatif sering terjadi, namun berapa prevalensi sebenarnya belum diketahui. Umumnya pasien yg mengalami gangguan merasa kawatir karena ada kaitannya dengan makan makanan tertentu berkembangnya gejala dan secara langsung menolak jenis makanan tsb. Urtikaria kronik /angioedema yang dihubungkan dengan allergy makanan sangat jarang. Atopic dermatitis pada anak paling sering dihubungakan dengan allergy makanan. Pruritus, rash erythematous morbilliform, dihubungkan juga dengan makan allergen tertentu. Memakan kembali allergen menyebabkan aktivasi kembali cutaneus mast cell dan menginduksi respons peradangan IgE late-phase, yg mengakibatkan pruritus akibatnya timbul gatal-gatal sampai terjadi lesi eczematous.

Gejala sal nafas bagian atas dan bawah telah dibuktikan dengan penelitian DBPCFC, disebabkan oleh allergy makanan. Pada penelitian 300 pasien dengan gejala klinik gangguan pada paru, 6(2%) diantaranya adalah disebabkan oleh allergy makanan. Pada penelitian juga pd anak dengan gejala asthma ternyata 5% nya disebabkan oleh allergy makanan.

Gejala pada oropharings dan GIT terjadi segera setelah memakan allergen. Pruritus dan pembengkakan pada bibir, lidah, dan palatum, juga dapat terjadi mual, nyeri, muntah, serta diare. Yang paling menarik adalah reaksi allergy saluran nafas yg disebabkan oleh "polen" dan gejala oral setelah makan jenis makanan seperti kentang, seledri, wortel, kacang-kcangan dan apel, dan juga melon dan pisang.

Laporan tentang anapphylactic akibat makanan pernah terjadi pada 7 pasien yg makan allergen yg tidak diketahui dengan jelas.

Reaksi anaphylactic-shock yang dihubungkan dengan Food Allergy dapat terjadi bila makan makanan yg spesifik dan diprovokasi dengan adanya exercise.

Reaksi anapphylaxis

Reaksi anapphylaxis merupakan gejala klinik mendadak terjadi karena pelepasan mediator yg secara biologik aktif dari mast cell dan basophil, berakibat pada:kulit (urtikaria, angioedema, flushing), sal nafas (bronchospasme, laryngeal edema), cardiovasculer (hypotension, dysrhytmias, myocardial ischemia), gejala GIT (nausea, colicky abdominal pain, vomiting, diare)

Penyebab paling sering terjadi diluar RS adalah food allergy berdasarkan survey pediatric di US, Italy, Australia bagian selatan.

Peanut allergy merupakan penyebab paling sering di negara barat, yg bila dihitung merupakan penyebab paling fatal atau hampir fatal. Pasien dengan latex allergy (kejadian di RS) juga ternyata punya pengalaman/hubungan sebelumnya dengan reaksi allergy terhadap makanan, yaitu allergy terhadap sejenis protein tumbuhan buah-buahan seperti pisang, kiwi, avocado, chestnut, dan passion fruit. Makanan merupakan antigen yg terbesar yg masuk kedalam tubuh manusia, dimana the gut-associated limphoid tissue (GALT) sanggup membedakan antara makanan yg tidak membahayakan dan yg patogen. Menelan makanan berarti mulut dapat bertoleransi atau menginduksi T-cell anergy dan T cell regulatory untuk sanggup membentuk system immun untuk mencover 2% antigen protein normal yg masuk kedalam tubuh setiap kali makan. Pada anak fungsi pertahanan masih belum matue seperti, keasaman lambung, enzim-enzim yg ada dalam usus, dan pertahanan immun (seperti secretory IgA), sehingga menyebabkan peningkatan penetrasi antigen makanan kedalam usus dan sistem GALT belum dapat mentolerir nya dibanding dengan yg sudah matur (pd orang dewasa). Akibatnya kerentanan terhadap makanan paling sering terjadi pada usia tersebut.

Pathogenesis.

Gambaran pathology yg paling prinsip adalah pulmonary hyperinflation, edema dan intraalveolar haemorrhaging, visceral congestion, laryngeal edema, dilatasi vasomotor, dan cardiac dysrhythmias. Kebanyakan kasusu terjadi akibat aktivasi mast cell dan basophils melalui ikatan antara allergen spesifik dengan molokul IgE. Pertama-tama jelas penyebabnya adalah makan allergen yg spesifik. Karena bisa jadi juga bersamaan dengan reaksi yg lainseperti ada faktor exercise, dan medication.

Pada individu tertentu yg rentan, reaksi yang tidak diharapkan yg terjadi akibat makanan adalah reaksi fisiologis dari individu atau reaksi hipersensitivitas dari reaksi imunologis.

Ketika allergen makanan berpenetrasi kedalam barrier mukosa usus, dan mencapai ikatan antara sel- IgE antibodi, melepaskan mediatornya, sehingga menginduce terjadinya vasodilatasi, kontraksi otot polos, sekresi mukus, akibatnya segera terjadi gejala hipersensitivity. Mast cell da macrophege yg sudah diaktivasi, melepaskan sejumlah cytokines dan akan mengaktifkan sel lainnya seperti eosinophil dan lymphocyte mengakibatkan reaksi imflamasi dan hal yg lebih buruk lagi. Gejala pada:kulit (urtikaria, angioedema, flushing), sal nafas (bronchospasme, laryngeal edema), cardiovasculer (hypotension, dysrhytmias, myocardial ischemia), gejala GIT (nausea, colicky abdominal pain, vomiting, diare)


Diagnosis

Pastikan bahwa pasien makan allergen tertentu, dalam hitungan menit sampai 2 jam, dan cenderung mendapat gejala GIT, atau juga pasien menderita gatal-gatal, pada mulut dan wajah, rasa panas, capek, rasa cemas. Dapt terjadi flushing, urticaria, pruritus, rasa tercekat dalam tenggorokan, batuk, nasal congestion, bersin-bersin, dyspnea, batuk yg dalam, dan wheezing. Nausea, abdominal cramping dan vomiting paling sering bila termakan allergen, sedangkan pada kasus yg berat penurunan kesadaran sampai tidak sadar. Collaps secara tiba-tiba dapat terjadi tampak melalui reaksi kulit sebelumnya disebabkan oleh collaps vasovagal, myocardial infarction, aspirasi, emboli paru, dan kejang.

Penanganan

Identifikasi dan eliminasi yang cepat terhadap jenis makanan yg merupakan penyebab hipersensitivity terhadap makanan merupakan cara terbaik dalam penanganan food allergy. Eliminasi yg lengkap terhadap semua jenis makanan seperti : telur, kedelae, gandum, nasi, daging ayam, ikan, kacang-kacangan sangat sulit karena penggunaannya sangat tersebar merata pada hampir semua makanan yg telah diproses

Food Allergy and Anaphylaxis Network membangun network yg merupakan cara yg praktis dan untuk membicarakan issue sekitar makanan. Anak dengan Asthma dan IgE-mediated food allergy dapat diberikan epinephrine injeksi dan mencatat rencana emergency bila terjadi kasus makanan .

Immunotheraphy dan penggunaan anti-IgE masih dalam penelitian yang mungkin dapat berguna untuk pengobatan allergy makanan dimasa mendatang

Pencegahan

Dianjurkan untuk menunda bahan makanan yang paling banyak menyebabkan allergy pada anak dari keluarga yg punya riwayat atopic.

Peningkatan penggunaan ASI ,menunda penggunanan bahan makanan yang paling sering menyebabkan allergy, susu sapi sampai usia satu tahun, telur 18-24 bulan, sedangkan kacang-kacangan & seafood sampai usia 3 tahun


 


 


 


 


 


 


 


 


 

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget