MIOPIA DERAJAT SEDANG

Tuesday, October 21, 2008

Darryl Virgiawan Tanod


 

PENDAHULUAN


  1. Definisi

    Miopia merupakan suatu keadaan refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat (tanpa akomodasi), dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa akomodasi. Hal ini dapat disebabkan oleh sistem optik yang terlalu kuat, bola mata yang terlalu panjang1,2.


     

  2. Klasifikasi
  • Berdasarkan derajat beratnya miopia dibagi atas3,4 :
  1. Miopia ringan (1 – 3 dioptri)
  2. Miopia sedang (3 – 6 dioptri)
  3. Miopia tinggi (> 6 dioptri)
  • Secara klinis, miopia dapat dibedakan atas3,4 :
  1. Miopia simpleks, miopia stasioner, miopia fisiologik

Timbul pada usia muda kemudian berhenti, dapat juga naik sedikit pada waktu atau segera setelah pubertas, atau dapat naik sedikit sampai umur 20 tahun. Tidak disertai kelainan

patologik fundus namun dapat disertai kelainan fundus yang ringan. Berat kelainan refraktifnya kurang dari -5 D atau -6 D.

  1. Miopia progresif

Dapat ditemukan pada semua umur dan mulai sejak lahir, dimana kelainan mencapai puncak pada waktu remaja, bertambah terus sampai umur 25 tahun atau lebih. Kelainan

refraktifnya melebihi 6 D.

  1. Miopia patologik, miopia degeneratif, miopia maligna

Miopia progresif yang lebih ekstrim. Terjadi peningkatan beratnya miopia dalam waktu yang relatif pendek. Disertai kelainan degenerasi di koroid dan bagian lain dari mata. Dalam hal

ini miopia dapat dianggap sebagai penyakit.

  • Berdasarkan penyebabnya, miopia dapat dibedakan atas3,5 :
  1. Miopia aksialis

Jarak sumbu anterior – posterior terlalu panjang. Jarak normal adalah 23mm, sedangkan pada miopia 3D = 24mm, 10D = 27mm. Dapat merupakan kelainan kongenital (makroftalmus),

akuisita (membaca terlalu dekat, muka yang lebar), juga ada faktor herediter.

  1. Miopia pembiasan

Penyebabnya dapat terletak pada:

  1. Kornea : kongenital (keratokonus, keratoglobus) dan akuisita (keratek-tasia/kornea menonjol ke depan).
  2. Lensa : luksasi/subluksasi lensa, atau pada katarak imatur dimana lensa menjadi cembung akibat masuknya humor akuos.
  3. Cairan mata : kadar gula pada humor akuos meninggi sehingga daya biasnya meninggi (pada penderita diabetes mellitus).


     

  1. Gejala Klinik

    Hal yang biasa dikeluhkan pada miopia adalah penglihatan jauh yang berkurang, sakit kepala, mata berair, rasa lekas lelah dan pusing yang hilang timbul terutama bila membaca atau menonton televisi terlalu lama. Seseorang dengan miopia mempunyai kebiasaan mengerutkan matanya untuk mendapatkan efek lubang kecil (untuk mengurangi cahaya yang masuk sehingga ketajaman penglihatannya diperbaiki)6,7.


     

  2. Penanganan

    Penanganan pada penderita miopia adalah dengan pemakaian kacamata (lensa sferis negatif terkecil yang memberikan visus maksimal), lensa kontak, pembedahan (keratotomy radial) dan LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomiolisis).
    Komplikasi yang dapat terjadi adalah strabismus divergen, ablasi retina dan perdarahan badan kaca8,9.

    Untuk mencegah agar miopia tidak bertambah, kesehatan badan, dan mata harus dijaga. Usahakan untuk cukup istirahat, mengurangi pekerjaan dekat, banyak bekerja di luar. Bila membaca jangan terus menerus dan usahakan dalam posisi tegak, jangan membungkuk di atas buku. Kacamata harus terus dipakai. Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang. Untuk miopia tinggi, hindari olah raga seperti sepak bola, tinju, angkat berat dan yang sejenisnya7,8.


     

  3. Prognosis

    Prognosis pada miopia adalah baik dengan koreksi yang baik dan pemeliharaan mata yang baik. Miopia progresif yang disertai penyulit yang gawat, kadang-kadang membutuhkan pengurangan bahkan penghentian dan pekerjaan dekat. Miopia maligna, prognosisnya buruk.


     

    LAPORAN KASUS


     

    1. Identitas Penderita.

      Nama            :    Ny. ML

      Umur            :    29 tahun

      Agama            :    Kristen Protestan

      Pendidikan        :    SMA

      Suku/bangsa        :    Sanger/Indonesia

      Pekerjaan        :    Ibu rumah tangga

      Alamat        :    Kel. Kombos Timur, lingk III. Manado

      Tanggal Pemeriksaan    :    29 September 2008


       

    2. Anamnesa.
  • Keluhan        

Kedua mata terasa kabur.

  • Riwayat penyakit sekarang

    Mata terasa kabur dialami pasien sejak ± 5 tahun yang lalu. Mata kabur timbul secara perlahan, awalnya mata kabur dirasakan tidak terlalu mengganggu yang kemudian lama – kelamaan dirasakan pasien mengganggu kegiatan hariannya seperti membaca. Pasien juga mengeluhkan mata terasa kabur jika membaca agak jauh tetapi lebih jelas waktu baca dekat. Pasien pernah membeli kacamata sendiri ± 2 tahun yang lalu, setelah memakai kacamata pasien merasa lebih baik dan keluhan mata kabur menghilang. Kacamata dipakai pasien hanya ± 2 bulan. Selama tidak memakai kacamata, mata pasien dirasakan kembali kabur. Pasien kemudian datang ke poli mata RSU. Prof. R. D. Kandou untuk memeriksakan diri.


     

  1. Pemeriksaan Fisik.
  • Status Generalis

        Keadaan umum    :     Baik     

        Kesadaran         :     Kompos mentis

        Tanda Vital        :    T : 120/80 mmHg, N: 86 kali/menit, R: 22 kali/menit

S : 36,7 0C.

  • Kepala         :    Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
  • Leher        :     Pembesaran kelenjar getah bening (-)
  • Thoraks        :     Dalam batas normal
  • Abdomen        :     Dalam batas normal
  • Ekstremitas    :     superior dan inferior tidak ada kelainan


     

  1. Status Oftalmikus

    Pemeriksaan Subjektif

    VOD            :    6/60 dikoreksi dengan S(-) 4,50 → 6/6

    VOS            :    4/60 dikoreksi dengan S(-) 6,00 → 6/6

    Jarak kedua pupil    :    58 mm

    Pemeriksaan Objektif

    Dari inspeksi ODS secara umum, posisi kedua bola mata normal, simetris di tengah, tidak ada benjolan, pergerakan bola mata normal. Supersilia, palpebra dan aparatus lakrimalis tidak ada kelainan, konjungtiva bulbi jernih, benjolan tidak ada. Kornea jernih, COA cukup dalam pupil bulat isokor, refleks cahaya positif normal. Palpasi ODS tidak ada nyeri tekan dan benjolan. Pemeriksaan dengan oftalmoskop pada ODS didapatkan refleks fundus (+) uniform, batas tegas, warna vital, makula dan retina dalam batas normal.


     

  2. Diagnosis

    Miopia Okuli dekstra et sinistra derajat sedang


     

  3. Terapi
  • Kacamata Monofokus OD : S(-) 4,50; OS : S(-) 6,00
  • Roborantia


     

  1. Prognosis

    Dubia


     

  2. Anjuran
  • Menjaga kesehatan badan dan mata
  • Bila membaca jangan terus-menerus dan usahakan dalam posisi tegak, jangan membungkuk di atas buku.
  • Kacamata harus terus dipakai.
  • Penerangan haruslah sesuai, yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang

        

  1. Resume

Seorang penderita perempuan umur 29 tahun, datang berobat ke poliklinik mata RSU Prof. R. D. Kandou pada tanggal 29 September 2008 dengan keluhan kedua mata terasa kabur. Mata kabur dialami pasien ± 5 tahun yang lalu, keluhan terutama dialami saat melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau membaca dalam jarak dekat.

Status Oftalmikus

VOD        :    6/60 dikoreksi dengan S(-) 4,50 → 6/6

VOS        :    4/60 dikoreksi dengan S(-) 6,00 → 6/6

Jarak kedua pupil    :    58 mm

Diagnosis

Miopia Okuli dekstra et sinistra derajat sedang

Terapi

  • Kacamata Monofokus OD : S(-) 4,50; OS : S(-) 6,00
  • Roborantia

Prognosis

Dubia


 

DISKUSI

Diagnosis miopia ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Dari anamnesis didapatkan adanya keluhan berupa penglihatan kabur terutama saat melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau membaca dalam jarak dekat. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat, dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina tanpa akomodasi.

Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan visus okulus dekstra 6/60 sedangkan visus okulus sinistra 4/60. Mata kanan dikoreksi dengan lensa sferis (–) 4,50 D, sedangkan mata kiri dikoreksi dengan lensa sferis (–) 6,00 D. Berdasarkan kepustakaan, miopia dapat dikoreksi dengan pemakaian lensa sferis negatif.

Karena orang miopia jarang melakukan akomodasi, jarang terjadi miosis, sehingga pupil menjadi midriasis. Otot-otot siliaris menjadi atrofi menyebabkan iris letaknya lebih ke dalam, sehingga bilik mata depan menjadi lebih dalam.
Pada pasien ini dengan inspeksi didapatkan bilik mata depan yang cukup dalam.

Komplikasi terburuk dari miopa adalah terjadinya ablasio retina, dimana sumbu antero posterior bola mata yang terlalu panjang dapat menyebabkan terjadinya penipisan sklera (skleraektasi) sehingga dapat terjadi ablasi dari retina. Selain itu komplikasi lain yang dapat terjadi adalah terjadinya strabismus divergen.

Pada miopia juga dapat terjadi perbedaan ukuran lensa negatif antara okuli dekstra dan sinistra dimana keadaan ini disebut anisometropia, dimana jika terdapat perbedaan > 3 D antara okuli dekstra dan sinistra jika terus berlanjut ini dapat menyebabkan anisokonia, dimana bayangan yang muncul akan tidak sama besar. Untuk mengetahuinya dapat digunakan Fordo test.

Pasien ini diterapi dengan kacamata mengunakan lensa sferis negatif. Ukuran lensa yang digunakan adalah yang terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan koreksi. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada penderita miopia diberikan lensa sferis negatif yang terkecil yang memberikan visus maksimal agar penderita dapat melihat dengan baik tanpa melakukan akomodasi.
Roborantia diberikan sebagai tambahan nutrisi mata.


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

  1. Wijana N. Refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata cetakan ke-6. Jakarta, 1993


     

  2. Agarwal LP. Subjective Examination. Principle Of Optics and Refraction 2nd ed. New Delhi : CBS Publihers and distributors, 1979 : 86 – 120


 

  1. American Academy of Ophthalmology. Practical Ophthalmology 4th ed. San Fransisco, USA, 1996 : 77 – 85


 

  1. Sidarta I, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata cetakan ke-2. Jakarta, 2000


 

  1. Sidarta I. Kelainan Refraksi. Dalam : Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta, 1991


 

  1. Sidarta I, dkk. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum edisi 2. Jakarta, 2002


 

  1. BJO Online. Myopia [cited 2006 January 11]. Available from : http://www.bmjjournals.com/cgi/reprintform.


 

  1. New scientist Breaking News. Lifestyle causes myopia. [cited 2006 January 12]. Available from : http://www.journals.com/cgi/reprintform


 

  1. Ilyas S. Tajam penglihatan dan kelainan refraksi. Dalam : Penuntun Ilmu Penyakit Mata. FKUI. 1988 : 16.


     


 

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget