KETERLAMBATAN BICARA ( SPEECH DELAY)

Monday, March 10, 2008

Darryl Virgiawan Tanod, S.ked

PENDAHULUAN

Keterlambatan bicara (speech delay) adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan ini semakin hari tampaknya semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah. Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat luas dan banyak, gangguan bicara pada anak antara lain dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.1

Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan adanya penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain dapat juga di sebabkan oleh pengaruh lingkungan, seperti anak yang kurang mendapat stimulasi yang cukup atau pemakaian 2 bahasa didalam keluarga. Namun bila penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.1

Keterlambatan bicara pada anak merupakan aspek perkembangan yang tidak bisa langsung dilihat dibandingkan dengan keterlambatan motorik yang lebih mudah diketahui. Bila anak belum juga mampu duduk atau berjalan, misalnya, maka biasanya orang tua akan segera mengetahui. Perkembangan bicara dan bahasa ini merupakan suatu hal yang kompleks. Karena tidak hanya melibatkan proses pendengaran tapi juga melibatkan faktor koordinasi otot-otot alat bicara di daerah mulut. Proses berbahasa itu memang rumit, karena berkaitan dengan kematangan otak.2

Semakin dini kita mendeteksi kelainan atau gangguan tersebut maka semakin baik pemulihan gangguan tersebut, semakin cepat diketahui penyebab gangguan bicara dan bahasa pada anak maka semakin cepat stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut.1

Deteksi dini gangguan bicara dan bahasa ini harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak ini, mulai dari orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut.1

Pada anak normal tanpa gangguan bicara dan bahasa juga perlu dilakukan stimulasi kemampuan bicara dan bahasa sejak lahir bahkan bisa juga dilakukan stimulasi sejak dalam kandungan. Dengan stimulasi lebih dini diharapkan kemampuan bicara dan bahasa pada anak lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan kualitas komunikasinya. Penanganan keterlambatan bicara dilakukan pendekatan medis sesuai dengan penyebab kelainan tersebut. Biasanya hal ini memerlukan penanganan multi disiplin ilmu di bidang kesehatan, di anataranya dokter anak dengan minat tumbuh kembang anak, Rehabilitasi Medik, Neurologi anak, Alergi anak, atau klinisi dan praktisi lainnya yang berkaitan.1

PEMBAHASAN

Kemampuan bicara anak memang tidak bisa digeneralisir berdasarkan usia atau jenis kelamin. Paling penting adalah orang tua harus cepat tanggap takkala anaknya menunjukkan tanda-tanda keterlambatan dalam perkembangan kemampuan bicara. Jadi, waspadai apabila saat memasuki usia di atas empat tahun, anak baru bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dengan tata bahasa yang belum benar. Padahal seharusnya pada usia ini si anak seharusnya sudah cerewet dan banyak omong.3

Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.4

Penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti :

1. Hambatan pendengaran

Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Anak yang mengalami gangguan pendengaran kurang mendengar pembicaraan disekitarnya.5

Gangguan pendengaran selalu harus difikirkan bila ada keterlambatan bicara. Terdapat beberapa penyebab gangguan pendengaran, bisa karena infeksi, trauma atau kelainan bawaan. Infeksi bisa terjadi bila mengalami infeksi yang berulang pada organ dalam sistem pendengaran. Kelainan bawaan biasanya karena kelainan genetik, infeksi ibu saat kehamilan, obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil, atau bila terdapat keluarga yang mempunyai riwayat ketulian.4

2. Hambatan perkembangan pada otak serta organ bicara.

Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu. Contohnya :

· Kelainan organ bicara.

· Kelainan sentral (otak).

· Autisme.

· Mutisme selektif.

· Gangguan emosi dan perilaku lainnya.1,5

3. Masalah keturunan/genetik.

Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya.1,5

Gangguan karena kelainan genetik yang menurun dari orang tua. Biasanya juga terjadi pada salah satu atau ke dua orang tua saat kecil. Biasanya keterlambatan. Menurut Mery GL anak yang lahir dengan kromosom 47 XXX terdapat keterlambatan bicara sebelum usia 2 tahun dan membutuhkan terapi bicara sebelum usia prasekolah. Sedangkan Bruce Bender berpendapat bahwa kromosom 47 XXY mengalami kelainan bicara ekpresif dan reseptif lebih berat dibandingkan kelainan kromosom 47 XXX. 5

4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua serta lingkungan.

Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun.5

Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.1

5. Faktor Lainnya.

· Televisi

Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk.5

Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.5

· Alergi makanan.

Alergi makanan ternyata juga bisa mengganggu fungsi otak, sehingga mengakibatkan gangguan perkembangan salah satunya adalah keterlambatan bicara pada anak. Gangguan ini biasanya terjadi pada manifestasi alergi pada gangguan pencernaan dan kulit. Bila alergi makanan sebagai penyebab biasanya keterlambatan bicara terjadi usia di bawah 2 tahun, di atas usia 2 tahun anak tampak sangat pesat perkembangan bicaranya.5

Keterlambatan bicara adalah salah satu jenis gangguan perkembangan yang mulai meningkat akhir-akhir ini. Hal ini dapat dilihat dari data kunjungan ke klinik Tumbuh Kembang di rumah sakit, kasus keterlambatan bicara menempati urutan teratas.1,5

Kasus keterlambatan bicara yang ada, kadang tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari salah satu gejala penyakit yang menjadi latar belakang gangguan tersebut.(5)

Karenanya, jika pada seorang anak ditemukan gangguan berupa keterlambatan bicara, maka penyakit sebagai penyebab utamanya harus segera mendapat penanganan. Sebab jika tidak, akan mengakibatkan gangguan yang lebih parah yang menyangkut semua aspek perkembangan lainnya, sehingga akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya anak di kemudian hari serta masa depan anak itu.(5)

Langkah awal yang dapat dilakukan orang tua agar anak tidak mengalami keterlambatan bicara ada beberapa stimulus yang bisa dilakukan oleh orangtua. Seperti 4 :

· Ajak si anak berbicara dan berkomunikasi. Patut diingat bahwa berbicara pada anak tidak sama artinya dengan memberi perintah ataupun melarang ini-itu dengan menggunakan kalimat pendek yang sifatnya satu arah.

· Biasakan melontarkan kalimat terbuka yang tidak hanya bisa dijawab dengan kata "ya", "tidak", "belum" dan "sudah". Misalnya, "Adik hari ini makan apa?" dan jangan melontarkan pertanyaan seperti ini, "Adik sudah makan?"

· Mendongenglah. Cara ini terbukti bermanfaat untuk menambah perbendaharaan kata anak. Melalui dongeng anak bisa mengenal kata gunung, danau, hutan dan perahu yang kadang jarang ditemui pada percakapan sehari-hari.

· Jangan biarkan anak terlalu banyak menonton televisi. Televisi tidak dapat memberikan stimulus apa-apa terhadap perkembangan anak-anak dan hanya membuat anak menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk.

· Orang tua harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar dan jangan menirukan pelafalan kata yang tidak tepat.

Terdapat usia perkembangan kemampuan pada anak yang dapat dijadikan patokan bagi orang tua untuk menilai kemampuan berbicara/bahasa anak 4 :

· Usia lahir hingga 3 bulan - Menangis.

· Usia 3-6 bulan, si kecil mengeluarkan bunyi tanpa arti sama sekali (cooing).

· 6-8 bulan, si kecil mulai mengucapkan kata seperti "mamamam" atau "tatatata" (bubbling) .

· Usia 12 bulan, si kecil mulai bisa mengucapkan kata pertamanya, seperti "mama" atau "papa".

· Usia 18 bulan, si kecil sudah bisa mengucapkan satu kata meskipun tanpa tata bahasa. Misalnya: "makan", "minum", dan sebagainya.

· Usia 2 tahun, si kecil sudah bisa merangkai beberapa kata menjadi kalimat sederhana. Misalnya, "Adik makan."

· Usia 3-4 tahun, si kecil sudah menguasai lebih dari 1.000 kosa kata dan kemampuan tata bahasanya mulai meningkat pesat. Misalnya, anak sudah bisa mengatakan, "Aku mau makan pipis."

· Usia 4-6 tahun, si kecil mulai mengenali sopan santun dalam bicara.

Para ibu juga harus waspada apabila mendapati anak batitanya terlalu aktif, sulit tidur hingga malam hari meski suasana rumah tenang. Hal itu juga bisa mempengaruhi kemampuan bicara anak di kemudian hari, sebab anak yang terlalu aktif pada umur 6 bulan cenderung pusat bahasanya terlambat berkembang.3

Bagaimana anak dapat dikatakan mengalami keterlambatan bicara? Memang susah mengukurnya, karena tidak mudah untuk menentukan batasannya. Lagi pula skala kemampuan bicara ini tidak terdapat di dalam buku KMS (Kartu Menuju Sehat). Ini berbeda dengan skala berat badan atau tinggi badan. Yang jelas apabila sampai usia 2 tahun anak belum mampu menggunakan lebih dari 2-3 kata, maka orangtua selayaknya harus waspada. Malahan orangtua semestinya waspada bila di usianya yang pertama, anak belum mampu mengoceh. Mungkin saja ada gangguan yang menyebabkan anak terlambat bicara.4

PENUTUP

Walaupun kecepatan perkembangan setiap anak berbeda-beda, kita harus waspada apabila seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan atau penyimpangan perkembangan. Demikian pula bila terjadi penurunan kemampuan berbahasa dan bicara seorang anak, kita harus lebih mewaspadainya. Misalnya pada umur tertentu anak sudah bisa memanggil papa atau mama tetapi beberapa bulan kemudian kemampuan tersebut menghilang.4

Karenanya, setiap orangtua perlu mengenal tahap-tahap perkembangan bicara yang normal pada balita, sehingga dapat mengetahui secara dini akan adanya kelambatan perkembangan bicara. Selanjutnya, akibat yang ditimbulkannya dapat segera dicarikan pengobatannya.3

Penanganan keterlambatan bicara memerlukan waktu yang agak lama serta kerja sama yang baik dari orangtua. Keterlambatan bicara sering disertai gangguan lainnya sesuai dengan penyakitnya seperti hiperaktif, tingkah laku yang aneh, sulit untuk diajak kerja sama, maka penanganannya harus dimulai dengan memperbaiki perilakunya. Setelah itu baru bisa diberikan terapi wicara. Penanganannya memerlukan kerja sama dari berbagai ahli seperti fisioterapis, ahli terapi okupasi selain tentunya ahli terapi wicara.5

Keberhasilan terapi tidak dapat diketahui secara cepat, orangtua mesti tekun dan sabar. Ketika anak sudah di rumah, latihan bicara harus dapat diberikan oleh orang tua agar berkesinambungan.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Judarwanto, dr. 2008. Keterlambatan bicara – Speech delay. www.keterlambatan-bicara.blogspot.com. Diakses pada tanggal 14 Februari 2008.

2. Banjarmasin post. 2008. Mengapa terlambat bicara ?. www.banjarmasinpost.com. Diakses pada tanggal 14 Februari 2008.

3. Anonymous. 2008. Gangguan bicara pada si kecil. www.conectique.com. Diakses pada tanggal 14 Februari 2008.

4. Anonymous. 2008. Gangguan keterlambatan bicara dan faktor penyebab. www.e-psikologi.com. Diakses pada tanggal 14 Februari 2008.

5. Oka Lely, dr. 2008. Jika anak terlambat bicara. www.balipost.com. Diakses pada tanggal 14 Februari 2008.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget
 
 
 

Popular Blogs

 
Twitter Bird Gadget